Belajar Fiqih Islami

IconMelandasi Amalan Ibadah dengan Ilmu Syar'i

Definisi, Adab dan Hukum Terkait Istinja’


Jelaskan Definisi, Adab dan Hukum Terkait Istinja’

Jawab:

Definisi Istinja’, secara bahasa artinya memutus/ memotong.

Secara istilah, istinja’ artinya: menghilangkan (kotoran) yang keluar dari dua jalan (kemaluan dan dubur) dengan air, batu, dan semisalnya.Secara asal, istinja’ menggunakan air dan atau batu (disebut juga istijmar). Jika ada pilihan menggunakan salah satu, air lebih utama. Namun, jika sama-sama bisa digunakan, menggunakan batu terlebih dahulu, kemudian air. Itu lebih sempurna.

Jika tidak ditemukan adanya batu atau air, boleh menggunakan media lain yang kering dan padat serta bisa digunakan untuk istinja’, seperti kertas tisu, daun, ranting pohon, dan semisalnya, asalkan media itu suci (tidak najis) bukan sesuatu yang dimulyakan, bukan tulang, dan bisa digunakan untuk istinja’ pada 3 tempat usapan yang berbeda.

Hukum istinja’ adalah wajib, setelah selesai kencing atau buang air besar.

عَنْ سَلْمَانَ قَالَ قِيلَ لَهُ قَدْ عَلَّمَكُمْ نَبِيُّكُمْ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كُلَّ شَيْءٍ حَتَّى الْخِرَاءَةَ قَالَ فَقَالَ أَجَلْ لَقَدْ نَهَانَا أَنْ نَسْتَقْبِلَ الْقِبْلَةَ لِغَائِطٍ أَوْ بَوْلٍ أَوْ أَنْ نَسْتَنْجِيَ بِالْيَمِينِ أَوْ أَنْ نَسْتَنْجِيَ بِأَقَلَّ مِنْ ثَلَاثَةِ أَحْجَارٍ أَوْ أَنْ نَسْتَنْجِيَ بِرَجِيعٍ أَوْ بِعَظْمٍ

Dari Salman –radhiyallahu anhu-, dikatakan kepada beliau: Apakah Nabi kalian mengajarkan segala sesuatu sampai masalah buang air? Beliau menjawab: Ya. Beliau telah melarang kami kencing atau buang air besar menghadap kiblat, atau beristinja’ dengan tangan kanan, beristinja’ dengan kurang dari 3 batu, atau beristinja’ dengan kotoran (hewan) atau dengan tulang (H.R Muslim)

Sebelumnya, hendaknya seseorang mempersiapkan sesuatu yang dibutuhkan untuk istinja’ (seperti air) dan penegak tirai penutup (jika belum ada). Sebagaimana Anas bin Malik dan seorang Sahabat lain yang masih kecil mempersiapkan hal-hal yang dibutuhkan Nabi ketika akan buang air.

عَنْ أَنَسٍ قاَلَ كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَدْخُلُ الْخَلَاءَ فَأَحْمِلُ أَنَا وَغُلَامٌ إِدَاوَةً مِنْ مَاءٍ وَعَنَزَةً يَسْتَنْجِي بِالْمَاءِ

Dari Anas bin Malik –radhiyallahu anhu-beliau berkata: Rasulullah shollallahu alaihi wasallam masuk ke dalam toilet kemudian aku dan seorang anak kecil –sebaya denganku- membawa segayung air dan tongkat. Beliau beristinja’ dengan air (H.R al-Bukhari dan Muslim)

Bolehkah Seorang Laki-laki Kencing Berdiri?

Jawab:

Boleh. Nabi shollallahu alaihi wasallam pernah kencing dalam keadaan berdiri.

عَنْ حُذَيْفَةَ قَالَ أَتَى النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ سُبَاطَةَ قَوْمٍ فَبَالَ قَائِمًا ثُمَّ دَعَا بِمَاءٍ فَجِئْتُهُ بِمَاءٍ فَتَوَضَّأَ

Dari Hudzaifah –radhiyallahu anhuma- beliau berkata: Nabi shollallahu alaihi wasallam mendatangi tempat sampah suatu kaum, kemudian kencing berdiri. Kemudian beliau meminta air, maka aku mendatangi beliau dengan membawa air kemudian beliau berwudhu’ (H.R al-Bukhari dan Muslim)

Boleh bagi seorang laki-laki kencing berdiri dengan syarat:
  1. Aman dari terlihatnya aurat.
  2. Aman dari percikan air yang bisa mengenai tubuh atau pakaiannya.
(disarikan dari asy-Syarhul Mumti’ ala Zaadil Mustaqni’ (1/116)).

 
 
 
 

Posting Komentar 0 komentar:

Posting Komentar