Belajar Fiqih Islami

IconMelandasi Amalan Ibadah dengan Ilmu Syar'i

Tampilkan postingan dengan label Fadhail. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Fadhail. Tampilkan semua postingan

Kajian Fiqh : Bersiwak (Sikat Gigi)

Kajian Fiqh : Bersiwak (Sikat Gigi)

Apakah yang Dimaksud dengan Bersiwak?
Jawab:

Bersiwak adalah perbuatan membersihkan gigi, gusi, dan mulut. Di masa Nabi, alat yang digunakan kebanyakan berasal dari dahan pohon al-Araak.

Apakah Keutamaan Bersiwak?

Jawab:

1. Membersihkan mulut dan mendatangkan keridhaan dari Allah.


السِّوَاكُ مَطْهَرَةٌ لِلْفَمِ مَرْضَاةٌ لِلرَّبِّ
Bersiwak membersihkan mulut dan mendatangkan keridhaan dari Rabb (Allah) (H.R alBukhari)

2.Termasuk bagian dari fitrah


عَشْرٌ مِنْ الْفِطْرَةِ قَصُّ الشَّارِبِ وَإِعْفَاءُ اللِّحْيَةِ وَالسِّوَاكُ وَاسْتِنْشَاقُ الْمَاءِ وَقَصُّ الْأَظْفَارِ وَغَسْلُ الْبَرَاجِمِ وَنَتْفُ الْإِبِطِ وَحَلْقُ الْعَانَةِ وَانْتِقَاصُ الْمَاءِ

Sepuluh hal termasuk fitrah: mencukur kumis, membiarkan jenggot, siwak, memasukkan air ke hidung (saat wudhu’), memotong kuku, mencuci ruas-ruas jari (saat berwudhu’), mencabut bulu ketiak, mencukur bulu kemaluan, dan istinja’. (Dalam riwayat dinyatakan bahwa yang ke sepuluh adalah) berkumur (al-madhmadhah) dalam wudhu’ (H.R Muslim dari Aisyah)

3. Sholat yang didahului dengan bersiwak sebelumnya lebih utama dibandingkan sholat tanpa didahului bersiwak.


فَضْلُ الصَّلاَةِ الَّتِي يُسْتَاكُ لَهَا عَلَى الصَّلاَةِ الَّتِي لاَ يُسْتَاكُ لَهَا سَبْعِيْنَ ضِعْفًا

Keutamaan sholat yang (didahului) bersiwak dibandingkan yang tidak bersiwak adalah 70 kali lipat (H.R al-Hakim, dinyatakan olehnya sesuai syarat Muslim, disepakati oleh adz-Dzahaby. Dilemahkan oleh sebagian Ulama di antaranya Yahya bin Ma’in)

Ibnu Abbas radhiyallahu anhuma berkata:


لَأَنْ أُصَلِّيَ رَكْعَتَيْنِ بِسِوَاكٍ أَحَبُّ إِلَيَّ مِنْ أَنْ أُصَلِّيَ سَبْعِيْنَ رَكْعَةً بِغَيْرِ سِوَاكٍ



Seandainya aku sholat dua rokaat dengan bersiwak (sebelumnya) lebih aku sukai dibandingkan aku sholat 70 rokaat tanpa siwak (riwayat Abu Nuaim dalam as-Siwaak, dinyatakan sanadnya jayyid oleh as-Sakhowy (al-Maqoshidul hasanah (1/424)

Jalur periwayatan hadits-hadits di atas banyak dan saling menguatkan sehingga memungkinkan sampai pada derajat hasan. Wallaahu A’lam.


4. Sangat disenangi dan dicintai Rasulullah shollallahu alaihi wasallam, bahkan menjelang meninggal dunia, beliau masih menyempatkan diri untuk meminta bantuan bersiwak (hadits Aisyah riwayat al-Bukhari)

Apakah Alat Siwak Bisa Diganti dengan Alat Sikat Gigi dan Pasta Gigi Seperti yang Banyak Dipakai Saat Ini?

Jawab:

Syaikh Ibnu Utsaimin berpendapat bahwa penggunaan sikat gigi dan pasta gigi telah mencukupi dalam bersiwak bahkan menjadi lebih bersih. Jika seseorang melakukannya maka telah tercapai sunnah. Yg dilihat dlm hal ini bukanlah alatnya namun perbutan dan hasilnya (Fataawa Nuurun alad Darb (116/2))

Kapan Saja Waktu Dianjurkan untuk Bersiwak?

 
 

Tidak Menyambung Sholat Wajib dengan Sholat Sunnah Langsung dan Keutamaan Berpindah Tempat dalam Sholat Sunnah

Tidak Menyambung Sholat Wajib dengan Sholat Sunnah Langsung dan Keutamaan Berpindah Tempat dalam Sholat Sunnah

Hadits Nabi shollallahu alaihi wasallam :

لَا تُوصَلَ صَلَاةٌ بِصَلَاةٍ حَتَّى نَتَكَلَّمَ أَوْ نَخْرُجَ

Janganlah suatu sholat disambung dengan sholat (secara langsung) hingga kita berbicara atau keluar (H.R Muslim, Abu Dawud, Ahmad)

Penjelasan:

Syaikh Muhammad bin Sholih al-Utsaimin rahimahullah menyatakan:

فمثلا إذا صليت الظهر الظهر لها راتبة بعدها وأردت أن تصلي الراتبة لا تصل في مكانك قم في محل آخر أو اخرج إلى بيتك وهو أفضل أو على الأقل تكلم لأن النبي صلى الله عليه وسلم نهى أن توصل صلاة بصلاة حتى يخرج الإنسان أو يتكلم ولهذا قال العلماء يسن الفصل بين الفرض وسنته بكلام أو انتقال من موضعه والحكمة من ذلك ألا يوصل الفرض بالنفل فليكن الفرض وحده والنفل وحده حتى لا يختلط هكذا

Sebagai contoh, jika engkau sholat Dzhuhur yang Dzhuhur itu memiliki sunnah rotibah (ba’diyah) setelahnya, dan engkau ingin sholat sunnah rotibah itu, janganlah sholat di tempatmu (tempat melakukan sholat Dzhuhur). Bangkitlah ke tempat lain atau keluarlah ke rumah (untuk dikerjakan di rumah, pent) maka itu lebih utama. Atau paling tidak, engkau berbicara (sebagai pemisah antara sholat wajib dengan sunnah, pent). Karena Nabi shollallahu alaihi wasallam melarang sholat disambung (langsung) dengan sholat hingga seorang keluar atau berbicara. Karena itu para Ulama berkata: Disunnahkan memisahkan antara sholat Fardlu dengan sholat sunnahnya dengan ucapan atau berpindah tempat. Hikmahnya dalam hal itu adalah agar sholat fardlu tidak disambung dengan sholat sunnah. Akan tetapi sholat fardlu sendiri dan sholat nafilah (sunnah) sendiri. Sehingga tidak bercampur menjadi satu (syarh Riyadhis Sholihin (1/1301))

Syaikh Abdul Muhsin al-Abbad hafidzhahullah menyatakan:

وهذا دليل على أن الإنسان يصلي النافلة في مكان آخر غير المكان الذي صلى فيه الفريضة، وفائدة ذلك أن لا يصل فرضاً بنفل، ولتشهد له البقاع المتعددة التي يصلي فيها؛ لأن الأرض تشهد يوم القيامة على ما فعل على ظهرها من خير وشر، وهو معنى قول الله عز وجل: يَوْمَئِذٍ تُحَدِّثُ أَخْبَارَهَا [الزلزلة:4] يعني: تخبر عما حصل على ظهرها من خير أو شر، فإذا صلى الإنسان في مكان آخر تعددت البقع التي صلى فيها، وتشهد له البقع المتعددة والأماكن المتعددة

Dan hadits ini adalah dalil yang menunjukkan bahwa semestinya seseorang sholat nafilah (sunnah) di tempat lain, selain tempat yang digunakan untuk sholat fardlu. Faidahnya adalah tidak menyambung fardlu dengan nafilah dan agar tanah yang berbeda-beda yang menjadi tempat sholatnya akan menjadi saksi (nantinya). Karena bumi akan bersaksi pada hari kiamat terhadap perbuatan yang dilakukan di atasnya. Apakah itu perbuatan baik ataupun buruk. Itulah makna firman Allah Azza Wa Jalla: “Pada hari itu (bumi) menyampaikan kabar-kabarnya (Q.S az-Zalzalah ayat 4).

Yaitu, bumi mengkhabarkan kejadian yang terjadi di atasnya. Apakah perbuatan baik atau buruk. Jika seseorang sholat di tempat lain, maka tanah yang menjadi tempat sholatnya akan berada di tempat berbeda-beda. Sehingga tanah dan tempat-tempat yang berbeda-beda itu akan bersaksi untuknya (pada hari kiamat)(transkrip ceramah syarh Sunan Abi Dawud li Abdil Muhsin al-Abbad (6/416)).


(Abu Utsman Kharisman)