Tidak Menyambung Sholat Wajib dengan Sholat Sunnah Langsung dan Keutamaan Berpindah Tempat dalam Sholat Sunnah
Hadits Nabi shollallahu alaihi wasallam :
لَا تُوصَلَ صَلَاةٌ بِصَلَاةٍ حَتَّى نَتَكَلَّمَ أَوْ نَخْرُجَ
Janganlah suatu sholat disambung dengan sholat (secara langsung) hingga kita berbicara atau keluar (H.R Muslim, Abu Dawud, Ahmad)
Penjelasan:
Syaikh Muhammad bin Sholih al-Utsaimin rahimahullah menyatakan:
فمثلا إذا صليت الظهر الظهر لها راتبة بعدها وأردت أن تصلي الراتبة لا تصل في مكانك قم في محل آخر أو اخرج إلى بيتك وهو أفضل أو على الأقل تكلم لأن النبي صلى الله عليه وسلم نهى أن توصل صلاة بصلاة حتى يخرج الإنسان أو يتكلم ولهذا قال العلماء يسن الفصل بين الفرض وسنته بكلام أو انتقال من موضعه والحكمة من ذلك ألا يوصل الفرض بالنفل فليكن الفرض وحده والنفل وحده حتى لا يختلط هكذا
Sebagai contoh, jika engkau sholat Dzhuhur yang Dzhuhur itu memiliki sunnah rotibah (ba’diyah) setelahnya, dan engkau ingin sholat sunnah rotibah itu, janganlah sholat di tempatmu (tempat melakukan sholat Dzhuhur). Bangkitlah ke tempat lain atau keluarlah ke rumah (untuk dikerjakan di rumah, pent) maka itu lebih utama. Atau paling tidak, engkau berbicara (sebagai pemisah antara sholat wajib dengan sunnah, pent). Karena Nabi shollallahu alaihi wasallam melarang sholat disambung (langsung) dengan sholat hingga seorang keluar atau berbicara. Karena itu para Ulama berkata: Disunnahkan memisahkan antara sholat Fardlu dengan sholat sunnahnya dengan ucapan atau berpindah tempat. Hikmahnya dalam hal itu adalah agar sholat fardlu tidak disambung dengan sholat sunnah. Akan tetapi sholat fardlu sendiri dan sholat nafilah (sunnah) sendiri. Sehingga tidak bercampur menjadi satu (syarh Riyadhis Sholihin (1/1301))
Syaikh Abdul Muhsin al-Abbad hafidzhahullah menyatakan:
وهذا دليل على أن الإنسان يصلي النافلة في مكان آخر غير المكان الذي صلى فيه الفريضة، وفائدة ذلك أن لا يصل فرضاً بنفل، ولتشهد له البقاع المتعددة التي يصلي فيها؛ لأن الأرض تشهد يوم القيامة على ما فعل على ظهرها من خير وشر، وهو معنى قول الله عز وجل: يَوْمَئِذٍ تُحَدِّثُ أَخْبَارَهَا [الزلزلة:4] يعني: تخبر عما حصل على ظهرها من خير أو شر، فإذا صلى الإنسان في مكان آخر تعددت البقع التي صلى فيها، وتشهد له البقع المتعددة والأماكن المتعددة
Dan hadits ini adalah dalil yang menunjukkan bahwa semestinya seseorang sholat nafilah (sunnah) di tempat lain, selain tempat yang digunakan untuk sholat fardlu. Faidahnya adalah tidak menyambung fardlu dengan nafilah dan agar tanah yang berbeda-beda yang menjadi tempat sholatnya akan menjadi saksi (nantinya). Karena bumi akan bersaksi pada hari kiamat terhadap perbuatan yang dilakukan di atasnya. Apakah itu perbuatan baik ataupun buruk. Itulah makna firman Allah Azza Wa Jalla: “Pada hari itu (bumi) menyampaikan kabar-kabarnya (Q.S az-Zalzalah ayat 4).
Yaitu, bumi mengkhabarkan kejadian yang terjadi di atasnya. Apakah perbuatan baik atau buruk. Jika seseorang sholat di tempat lain, maka tanah yang menjadi tempat sholatnya akan berada di tempat berbeda-beda. Sehingga tanah dan tempat-tempat yang berbeda-beda itu akan bersaksi untuknya (pada hari kiamat)(transkrip ceramah syarh Sunan Abi Dawud li Abdil Muhsin al-Abbad (6/416)).
(Abu Utsman Kharisman)
Hukum Berdiri Menunggu Selesainya Adzan pada Shalat Jum'at kemudian Shalat Setelahnya?
asy-Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin rahimahullah :
Pertanyaan :
Fadhilatusy Syaikh, biasanya pada hari jum'at sebagian orang mereka masuk ke masjid tatkala adzan sedang dikumandangkan, kemudian mereka berdiri menunggu sampai adzan selesai. Kemudian tatkala khatib memulai khutbahnya, mereka shalat (sunnah). Bagaimana hukumnya?
Jawaban :
Sebagian ulama berpendapat seperti ini, yaitu engkau menjawab adzan, kemudian setelah itu engkau shalat sunnah. Akan tetapi pendapat ini, pendapat yang lemah.
Pendapat yang rajih, Engkau (langsung) shalat sunnah, ini dari 2 sisi :
- Bersegera untuk shalat, sebagai ganti engkau berdiri untuk menunggu adzan selesai. Kami katakan : bersegeralah untuk shalat !!
- Untuk engkau bersiap-siap mendengarkan khutbah.
Dikarenakan mendengarkan khutbah lebih penting, dibanding dengan menjawab adzan. Menjawab adzan SUNNAH, sedangkan mendengarkan khutbah WAJIB. Dan perkara wajib didahulukan atas sunnah.
Adapun selain shalat jum'at, maka tidak mengapa engkau menjawab adzan terlebih dahulu. Supaya tidak luput darimu menjawab adzan, kemudian setelah itu engkau shalat tahiyyatul masjid.
Silsilah Liqaat Bab al-Maftuh (Liqa 87)
Sumber: http://forumsalafy.net/?p=8666
Nasehat untuk Saudara Muslim tentang Melafadzkan Niat dalam Sholat (Bag ke-2)
Melafadzkan Niat dalam Sholat Tidak Pernah Dilakukan Sejak Masa Nabi dan Para Sahabatnya hingga Masa Ahli Fiqh 4 Madzhab
Para Ulama, di antaranya Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah menjelaskan bahwa tidak pernah ternukil dari Nabi, para Sahabatnya, maupun Imam 4 madzhab tentang melafadzkan niat dalam sholat. Hal itu beliau sebutkan dalam beberapa kitabnya di antara Majmu’ al-Fataawa (18/263).
Siapakah Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah sehingga kita bisa mempercayai beliau jika beliau menyatakan bahwa hal itu sama sekali tidak ada dalam hadits maupun atsar Sahabat ataupun pendapat Imam 4 madzhab?
Cukuplah kita nukilkan ucapan al-Hafidz Ibnu Hajar al-Asqolaany –seorang Ulama bermadzhab Syafiiyyah- dalam kitabnya atTalkhiisul Habiir ketika membahas hadits: kefakiran adalah kebanggaanku dan dengannya aku berbangga. Al-Hafidz Ibnu Hajar al-Asqolaany rahimahullah menyatakan:
وَهَذَا الْحَدِيثُ سُئِلَ عَنْهُ الْحَافِظُ ابْنُ تَيْمِيَّةَ فَقَالَ إنَّهُ كَذِبٌ لَا يُعْرَفُ فِي شَيْءٍ مِنْ كُتُبِ المسلمين المروية
Hadits ini ditanyakan kepada al-Hafidz Ibnu Taimiyah maka beliau berkata sesungguhnya itu adalah dusta, tidak dikenal dalam kitab-kitab riwayat kaum muslimin (atTalkhiisul Habiir (3/241)
Perhatikanlah, bagaimana al-Hafidz Ibnu Hajar al-Asqolaany memberi gelar Ibnu Taimiyyah sebagai al-Hafidz dan menjadikannya sebagai rujukan ketika menyebut suatu kalimat bukanlah sebuah hadits, dan tidak dikenal dalam kitab-kitab riwayat. Artinya, jika Ibnu Taimiyyah menyatakan bahwa itu tidak ada dalam riwayat hadits atau atsar Sahabat, maka ucapan beliau ini bisa dijadikan rujukan.
Kalau kita pikirkan bahwa sejak Nabi dan para Sahabat hingga Imam 4 madzhab tidak pernah ada pelafadzan niat, berarti lebih dari dua abad tidak pernah ada nukilan dari kaum muslimin terdahulu yang mengamalkan pelafadzan niat dalam sholat. Kita ketahui bahwa Imam madzhab fiqh yang terakhir adalah Imam Ahmad yang beliau meninggal di tahun 241 Hijriah.
Itu menunjukkan bahwa pendapat pelafadzan niat itu baru muncul belakangan. Nanti akan dibahas insyaAllah bahwa hal itu bermula dari kesalahpahaman dalam menafsirkan ucapan al-Imam asy-Syafii rahimahullah.
Al-Imam asySyafii Tidak Pernah Memerintahkan untuk Melafadzkan Niat dalam Sholat
Anggapan sebagian Ulama yang bermadzhab asy-Syafii bahwa al-Imam asy-Syafii menganjurkan untuk melafadzkan niat dalam sholat dan mengqiyaskannya dengan Talbiyah Haji dan Umrah adalah keliru. Kekeliruan pemahaman ini diperjelas sendiri oleh Ulama Syafiiyyah yang lain, di antaranya al-Imam al-Mawardiy dan al-Imam anNawawy.
Al-Imam al-Mawardiy rahimahullah menyatakan:
وَقَالَ أَبُو عَبْدِ اللَّهِ الزُّبَيْرِيُّ - مِنْ أَصْحَابِنَا - : لَا يُجْزِئُهُ حَتَّى يَتَلَفَّظَ بِلِسَانِهِ تَعَلُّقًا بِأَنَّ الشَّافِعِيَّ قَالَ فِي كِتَابِ " الْمَنَاسِكِ " : وَلَا يَلْزَمُهُ إِذَا أَحْرَمَ بِقَلْبِهِ أَنْ يَذْكُرَهُ بِلِسَانِهِ وَلَيْسَ كَالصَّلَاةِ الَّتِي لَا تَصِحُّ إِلَّا بِالنُّطْقِ فَتَأَوَّلَ ذَلِكَ عَلَى وُجُوبِ النُّطْقِ فِي النِّيَّةِ ، وَهَذَا فَاسِدٌ ، وَإِنَّمَا أَرَادَ وُجُوبَ النُّطْقِ بِالتَّكْبِيرِ ، ثُمَّ مِمَّا يُوَضِّحُ فَسَادَ هَذَا الْقَوْلِ حِجَاجًا : أَنَّ النِّيَّةَ مِنْ أَعْمَالِ الْقَلْبِ فَلَمْ تَفْتَقِرْ إِلَى غَيْرِهِ مِنَ الْجَوَارِحِ كَمَا أَنَّ الْقِرَاءَةَ لَمَّا كَانَتْ مِنْ أَعْمَالِ اللِّسَانِ لَمْ تَفْتَقِرْ إِلَى غَيْرِهِ ، مِنَ الْجَوَارِحِ
Abu Abdillah az-Zubairiy yang termasuk sahabat kami berkata: Tidaklah mencukupi hingga melafadzkan (niat) dengan lisannya. Hal ini dilakukan dengan menggantungkan pada ucapan asySyafii dalam kitab al-Manasik: “Tidaklah mengharuskannya jika berihram dengan hatinya untuk mengucapkan dengan lisannya. Dan tidaklah seperti sholat yang tidaklah sah kecuali dengan mengucapkannya”. Kemudian az-Zubairy menakwilkan ucapan asy-Syafii itu tentang wajibnya mengucapkan niat. Ini adalah kerusakan (pemahaman). Padahal yang dimaksud asySyafii dengan wajib mengucapkan itu adalah takbir (takbiratul ihram). Hal lain yang memperjelas kesalahan pendapat (az-Zubairiy) ini adalah hujjah bahwa niat adalah termasuk perbuatan hati sehingga tidak butuh anggota tubuh yang lain. Sebagaimana bacaan adalah amalan lisan sehingga tidak butuh pada anggota tubuh yang lain (al-Haawiy fi Fiqhisy Syafii (2/92)).
Al-Imam anNawawiy rahimahullah salah seorang Ulama Syafiiyyah yang lain juga menyatakan:
قول ابى عبد الله الزبيري أنه لا يجزئه حتى يجمع بين نية القلب وتلفظ اللسان لان الشافعي رحمه الله قال في الحج إذا نوى حجا أو عمرة أجزأ وان لم يتلفظ وليس كالصلاة لا تصح الا بالنطق قال اصحابنا غلط هذا القائل وليس مراد الشافعي بالنطق في الصلاة هذا بل مراده التكبير: ولو تلفظ بلسانه ولم ينو بقلبه لم تنعقد صلاته بالاجماع فيه: ولو نوى بقلبه صلاة الظهر وجرى علي لسانه صلاة العصر انعقدت صلاة الظهر
Perkataan Abu Abdillah az-Zubairiy bahwasanya tidaklah mencukupi hingga menggabungkan antara niat hati dengan melafadzkan dengan lisan karena asy-Syafii rahimahullah berkata tentang haji: “Jika seseorang meniatkan haji atau Umroh maka itu sudah mencukupi meskipun tidak melafadzkannya. Tidaklah seperti sholat yang tidak sah kecuali dengan mengucapkan”. Sahabat kami menyatakan: Ucapan ini salah. Bukanlah maksud asy-Syafii mengucapkan dalam sholat itu adalah ini (mengucapkan niat), tapi maksudnya adalah takbir. Jika dia melafadzkan dengan lisannya tapi tidak meniatkan dengan hatinya, maka tidak sah sholatnya berdasarkan Ijma’. Jika ia berniat dengan hatinya sholat Dzhuhur sedangkan pada lisannya sholat Ashar, maka yang terjadi adalah sholat Dzhuhur (al-Majmu’ syarhul Muhadzdzab (3/277)).
Hal yang semakin memperjelas bahwa justru al-Imam asy-Syafii rahimahullah menganggap niat adalah amalan hati dan tidak perlu - bahkan tidak mungkin- diucapkan, adalah pernyataan beliau dalam Kitab al-Umm:
وَالنِّيَّةُ لَا تَقُومُ مَقَامَ التَّكْبِيرِ وَلَا تَجْزِيهِ النِّيَّةُ إلَّا أَنْ تَكُونَ مع التَّكْبِير لَا تَتَقَدَّمُ التَّكْبِيرَ وَلَا تَكُونُ بَعْدَهُ
Niat itu tidak bisa menggantikan takbir. Tidak sah niat kecuali dilakukan bersamaan dengan takbir. Tidak mendahului takbir, tidak pula setelah takbir (al-Umm (2/224)).
Dalam redaksi kalimat yang lain, al-Imam asy-Syafii rahimahullah menyatakan:
وإذا أحرم نوى صلاته في حال التكبير لا بعده ولا قبله
Jika takbiratul ihram, meniatkan sholat saat takbir. Bukan setelahnya, bukan pula sebelumnya (disebutkan dalam Mukhtashar, dinukil anNawawy dalam kitab al-Majmu’ syarhul Muhadzdzab(3/277)).
Dalam redaksi kalimat lain yang dinukil al-Ghozaliy, al-Imam asy-Syafii rahimahullah menyatakan:
ينوى مع التكبير لا قبله ولا بعده
Berniat bersamaan dengan takbir. Tidak sebelumnya tidak juga setelahnya (disebutkan anNawawy dalam al-Majmu’ syarhul Muhadzdzab (3/277)).
Al-Imam asy-Syafii dalam kalimat di atas menjelaskan bahwa niat semestinya bersamaan dengan takbir. Tidak bisa mendahului takbir dan tidak pula setelahnya. Jadi, niat dalam hati, bersamaan dengan mengucapkan takbir. Bagaimana bisa melafadzkan niat pada saat lisan sibuk dengan bertakbir?!
Namun, al-Imam anNawawy rahimahullah setelah menyebutkan perbedaan pendapat Ulama Syafiiyyah dalam masalah itu cenderung pada pendapat bahwa hal itu (apa yang diucapkan al-Imam asy-Syafii itu) tidaklah wajib. Yang penting niat bergandengan dengan takbir, apakah mendahului takbir atau tidak mendahului takbir, yang penting niat menyertai hingga berakhirnya ucapan takbir (al-Majmu’ syarhul Muhadzdzab (3/277)).
\Kesalahan Mengqiyaskan Ibadah Sholat dengan Haji
Jika ada yang menyatakan bahwa melafadzkan niat dalam sholat adalah mengqiyaskan dengan mengucapkan talbiyyah dalam ibadah haji dan umroh, maka ini adalah sisi pendalilan qiyas yang tidak pada tempatnya. Qiyas memang adalah salah satu pendalilan dalam Fiqh. Namun, harus terpenuhi kaidah-kaidahnya dengan tepat.
Bagaimana bisa mengqiyaskan sholat dengan haji padahal perintah sholat datang terlebih dahulu sebelum perintah haji? Telah dipahami bahwa perintah sholat diturunkan pada saat Isra’ Mi’raj saat Nabi masih di Makkah dan itu sebelum hijrah ke Madinah (artinya sebelum tahun 1 hijriyah). Sedangkan perintah haji diturunkan pada akhir tahun 9 Hijriah. Nabi shollallahu alaihi wasallam baru bisa berhaji di tahun 10 Hijriah.
Lalu, kalau memang benar melafadzkan niat dalam sholat rujukannya adalah haji, berarti antara tahun 1 sampai 9 Hijriah apakah sholat Nabi dan para Sahabatnya tidak melafadzkan, sedangkan setelah turun perintah haji baru melafadzkan?! Suatu hal yang aneh.
Mestinya kalau mau diqiyaskan, haji diqiyaskan dengan sholat. Bukannya sholat diqiyaskan dengan haji. Karena perintah sholat turun terlebih dahulu dari perintah haji.
Keburukan-keburukan yang Timbul Jika Melafadzkan Niat
Sesungguhnya sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Nabi Muhammad shollallahu alaihi wasallam. Apa yang beliau ajarkan adalah yang terbaik bagi umatnya. Sesuatu hal terkait ibadah yang tidak beliau kerjakan, padahal sangat memungkinkan untuk dikerjakan di masa beliau tanpa ada penghalang, maka meninggalkannya adalah kebaikan.
Maka setiap hal-hal yang diada-adakan dalam ibadah pasti mengandung mudharat. Di antara keburukan-keburukan yang bisa timbul akibat melafadzkan niat adalah:
1⃣Justru menambah was-was.
Jika dikatakan bahwa melafadzkan niat salah satu tujuannya adalah menghilangkan was-was, namun kenyataan yang terjadi adalah menambah was-was. Tidak sedikit orang yang ketika akan sholat, terus menerus mengulang ucapan niat kemudian bertakbir, mengulang niat lagi dan bertakbir lagi saat dirasa kurang mantap antara niat dengan takbirnya.
2⃣Semakin menyulitkan kaum muslimin. Ada orang yang terhalangi untuk mengerjakan sholat tertentu karena beralasan tidak tahu/ tidak hafal niatnya. Karena mereka menghafal setiap sholat ada niatnya sendiri-sendiri. Lebih sulit lagi bagi yang bahasa aslinya bukan berbahasa Arab.
3⃣Mengganggu sekitarnya.
Terdapat kisah yang terjadi di masa Ibnul Qoyyim, disebutkan oleh beliau dalam kitab Ighotsatul Lahaafaan. Bahwa seseorang yang akan sholat ada yang sering was-was. Ia terus mengulang lafadz niat dalam ucapannya sebelum takbir. Ia mengucapkan : Ushollii… Usholli…beberapa kali. Saat akan mengucapkan adaa-an, ia berupaya fasih-fasihkan hingga keliru menjadi terbaca adzaa-an. Sehingga, saat semestinya ia baca: Usholli sholaatan… adaa-an lillah yang artinya aku niat sholat… pada waktunya karena Allah menjadi terbaca: Ushollii sholaatan… adzaa-an lillaah yang artinya: Aku niat sholat… untuk ‘mengganggu/ menyakiti’ Allah.
Spontan, ketika mendengar itu satu orang di sampingnya menghentikan sholatnya dan segera berujar: Engkau tidak cukup hanya mengganggu Allah, bahkan juga Rasul, Malaikat, dan jamaah kaum muslimin (disarikan dari Ighotsatul Lahafaan (1/135)).
4⃣Sesuatu hal yang percuma dan sia-sia, karena yang dinilai apakah yang di dalam hati. Kalau berbeda antara niat dalam hati dengan ucapan, maka yang ternilai adalah yang di dalam hati, sebagaimana penjelasan al-Imam anNawawiy di atas.
5⃣Terhambat tidak segera mutaabaah (mengikuti gerakan) Imam.
Jika seseorang mengucapkan niat, hal ini memperlambat gerakan takbiratul Ihram yang dilakukannya. Semestinya, saat Imam takbiratul Ihram, makmum bersegera mengikutinya. Saat Imam mengucapkan Allaahu Akbar, makmum segera mengikuti dengan mengucapkan Allaahu Akbar. Karena Nabi shollallahu alaihi wasallam bersabda:
إِنَّمَا جُعِلَ الْإِمَامُ لِيُؤْتَمَّ بِهِ فَإِذَا كَبَّرَ فَكَبِّرُوا
Seseorang dijadikan sebagai Imam untuk diikuti. Jika ia takbir maka bertakbirlah kalian (H.R al-Bukhari dan Muslim dari Anas bin Malik)
Yang sering terjadi, saat Imam sudah bertakbir, makmum masih baru mulai membaca Usholli…Ini mengurangi kesempurnaan mutaba’ah.
Belum lagi jika ia datang saat Imam ruku’, kemudian ia masih mulai dengan usholli..sedangkan Imam hanya ruku’ dengan batas minimal thuma’ninah dan segera bangkit, maka ia telah melewatkan satu rokaat.
Demikian nasehat yang bisa disampaikan dalam tulisan ini. Semoga Allah Subhaanahu Wa Ta’ala senantiasa memberikan hidayahNya kepada segenap kaum muslimin.
(Abu Utsman Kharisman)
Nasehat untuk Saudara Muslim tentang Melafadzkan Niat dalam Sholat (Bag I)
Nabi dan Para Sahabat adalah Manusia yang Paling Amanah dalam Mengambil Ilmu, Menerapkan, dan Mengajarkannya
Nabi kita Muhammad shollallahu alaihi wasallam adalah manusia yang paling bersemangat untuk menyampaikan kebaikan kepada umatnya.
لَقَدْ جَاءَكُمْ رَسُولٌ مِنْ أَنْفُسِكُمْ عَزِيزٌ عَلَيْهِ مَا عَنِتُّمْ حَرِيصٌ عَلَيْكُمْ بِالْمُؤْمِنِينَ رَءُوفٌ رَحِيمٌ
Sungguh telah datang kepada kalian seorang Rasul dari jenis kalian, yang berat dirasakan olehnya hal-hal yang menyengsarakan kalian, dan ia sangat bersemangat (untuk kebaikan) kalian, yang ia memiliki sifat pengasih dan penyayang kepada orang-orang yang beriman (Q.S atTaubah:128)
Semua kebaikan yang datang dari Allah terkait ibadah dan keselamatan di akhirat, telah beliau jelaskan kepada umat, melalui murid langsung beliau: para Sahabat Nabi ridhwanullahi alaihim ajmain.
Label:
Fatawa
Diposting oleh
Abu Ahmad bin Wakhid
08.17
Fatwa Syaikh Ibn Utsaimin bagi yang mendapati sholat berjamaah Imam sedang Ruku'
Pertanyaan:
Sebagian orang yang sholat mendapati Imam dalam keadaan ruku' (apa yang semestinya dilakukan) ?
Jawaban:
Jika ia masuk sebagai masbuq dalam sholat mendapati Imam ruku', mestinya ia takbiratul ihram dalam keadaan berdiri. Kemudian takbir ruku' jika ia mau silakan bertakbir, jika mau silakan tidak bertakbir. Dalam kondisi ini takbir ruku' adalah disukai (tidak wajib, pent). Demikianlah perkataan para Ulama semoga Allah merahmati mereka (Liqo' Baab al-Maftuh)
Naskah transkrip asli:
.بعض المصلين يدرك الإمام وهو راكع
إذا دخل المسبوق في الصلاة والإمام راكع يلزمه أن يكبر تكبيرة الإحرام وهو قائم. ثم تكبيرة الركوع إن شاء كبر وإن شاء لم يكبر. تكون تكبيرة الركوع في هذه الحال مستحبة. هكذا قال أهل العلم رحمهم .الله
[المصدر: سلسلة لقاءات الباب المفتوح [ لقاء الباب المفتوح
(dinukil dan diterjemahkan : Abu Utsman Kharisman)
Label:
Fatawa
Diposting oleh
Abu Ahmad bin Wakhid
07.17
Yang Mulia Al-‘Allaamah Asy-Syaikh Abdul ‘Aziz bin Abdullah bin Baaz rahimahullah
Pertanyaan:
Ketika bercanda dan tertawa bersama teman-teman, masuk padanya kedustaan. Tidak ada tujuan kecuali hanya untuk mancing tertawa dan bercanda, maka apa nasihat anda? semoga Allah membalas kepada anda kebaikan.
Jawaban:
Tidak boleh bagi seorang muslim atau muslimah untuk berdusta walaupun dalam bercanda. Nabi shallallahu’alaihi wasallam bersabda:
”Celaka bagi seseorang yang berbicara lalu berdusta agar tertawa denganya suatu kaum, celaka dia kemudian celaka dia.”
Ini adalah ancaman. Lafazh al-Wail (dalam hadits-pent) karena kerasnya adzab. Di sini Nabi mengatakan:
”Wail (celaka) bagi seseorang yang berbicara lalu berdusta agar tertawa denganya suatu kaum, celaka dia kemudian celaka dia.”
Maka wajib bagimu wahai saudaraku untuk menjauhi hal itu, dan wajib atas setiap muslim dan muslimah untuk menjauhi hal itu. Maka dusta itu adalah kejelekkan, maka wajib menjauhinya apakah ketika serius ataupun bercanda semuanya. Semoga Allah membalas kalian dengan kebaikan.
Sumber : http://www.binbaz.org.sa/mat/9657
Diterjemahkan dari Group Tafsir wal ‘Ulama al-‘Asyarah 6 oleh Ustadz Abu Hafs Umar al Atsary
Apakah Meninggalkan Istinja’ Termasuk Dosa Besar?
Jawab:
Ya. Seseorang yang tidak beristinja’ selesai kencing atau buang air besar telah melakukan dosa besar. Dia terancam dengan siksa adzab kubur. Suatu hari Nabi melewati dua pekuburan yang penghuninya disiksa. Nabi menjelaskan bahwa salah satunya disiksa karena tidak menjaga diri dari percikan air kencing, sedangkan yang satunya lagi adalah orang yang suka mengadudomba.
عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ قَالَ مَرَّ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِقَبْرَيْنِ فَقَالَ إِنَّهُمَا لَيُعَذَّبَانِ وَمَا يُعَذَّبَانِ فِي كَبِيرٍ أَمَّا أَحَدُهُمَا فَكَانَ لَا يَسْتَتِرُ مِنَ الْبَوْلِ وَأَمَّا الْآخَرُ فَكَانَ يَمْشِي بِالنَّمِيمَةِ
Dari Ibnu Abbas –radhiyallahu anhuma- beliau berkata: Nabi shollallahu alaihi wasallam melewati dua kubur. Beliau bersabda: Sesungguhnya keduanya diadzab. Tidaklah mereka diadzab karena perkara yang besar. Salah satu dari keduanya (di masa hidup) tidak menjaga diri dari kencing sedangkan yang lain biasa mengadudomba (H.R al-Bukhari)
Rasulullah shollallahu alaihi wasallam juga bersabda:
اِسْتَنْزِهُوا مِنَ اَلْبَوْلِ, فَإِنَّ عَامَّةَ عَذَابِ اَلْقَبْرِ مِنْهُ
Sucikanlah dari kencing, karena kebanyakan adzab kubur berasal darinya (H.R ad-Daraquthny, dishahihkan oleh Ibnu Khuzaimah dan Ibnul Mulaqqin)
Apakah Makruh Kencing atau Buang Air Besar Menghadap Ke Arah Matahari Atau Bulan?
Jawab:
Sebagian Ulama’ Hanabilah memakruhkannya. Namun, yang rajih adalah tidak makruh, karena tidak ada dalil dari Nabi shollallahu alaihi wasallam yang melarang atau membenci hal tersebut sebagaimana penjelasan Ibnul Qoyyim al-Jauziyyah dalam Miftah Daaris Sa’adah.
(Abu Utsman Kharisman)
Sumber : WA al I'thisom 2
Jika Seseorang Berada di Dalam Toilet yang Tempat Buang Air-nya Menghadap Atau Membelakangi Kiblat, Apa yang Dilakukan?
Jawab:
Dalam kondisi demikian, boleh bagi dia untuk kencing atau buang air besar menghadap atau membelakangi kiblat jika ia berada di dalam ruangan, atau antara dirinya dengan kiblat terdapat penghalang berupa pohon, bangunan, dan semisalnya. Ini adalah pendapat Imam Malik, asy-Syafi’i, dan Ahmad.
Terdapat atsar Ibnu Umar dan Jabir bin Abdillah yang menunjukkan bahwa jika berada di dalam ruangan, hal itu tidak mengapa.
عَنْ مَرْوَانَ الْأَصْفَرِ قَالَ رَأَيْتُ ابْنَ عُمَرَ أَنَاخَ رَاحِلَتَهُ مُسْتَقْبِلَ الْقِبْلَةِ ثُمَّ جَلَسَ يَبُولُ إِلَيْهَا فَقُلْتُ يَا أَبَا عَبْدِ الرَّحْمَنِ أَلَيْسَ قَدْ نُهِيَ عَنْ هَذَا قَالَ بَلَى إِنَّمَا نُهِيَ عَنْ ذَلِكَ فِي الْفَضَاءِ فَإِذَا كَانَ بَيْنَكَ وَبَيْنَ الْقِبْلَةِ شَيْءٌ يَسْتُرُكَ فَلَا بَأْسَ
Dari Marwan al-Ashfar beliau berkata: Saya melihat Ibnu Umar menderumkan hewan tunggangannya menghadap ke arah kiblat kemudian beliau duduk kencing ke arahnya. Maka aku bertanya : Wahai Abu Abdirrahman (Ibnu Umar) bukankah hal itu dilarang? Ibnu Umar menjawab: Yang dilarang hanyalah jika berada di tempat lapang terbuka. Jika di antara engkau dengan kiblat ada sesuatu yang menghalangi, maka tidak mengapa (H.R Abu Dawud, dishahihkan oleh al-Hakim dan dinyatakan oleh adz-Dzahaby sesuai syarat al-Bukhari)
عَنِ ابْنِ عُمَرَ قَالَ رَقِيتُ عَلَى بَيْتِ أُخْتِي حَفْصَةَ فَرَأَيْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَاعِدًا لِحَاجَتِهِ مُسْتَقْبِلَ الشَّامِ مُسْتَدْبِرَ الْقِبْلَةِ
Dari Ibnu Umar –radhiyallahu anhuma- beliau berkata: Suatu hari saya naik ke (atas) rumah saudariku Hafshah. Aku melihat Rasulullah shollallahu alaihi wasallam duduk buang hajat menghadap ke Syam dan membelakangi Ka’bah (H.R al-Bukhari dan Muslim)
عَنْ جَابِرِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ قَالَ نَهَى نَبِيُّ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنْ نَسْتَقْبِلَ الْقِبْلَةَ بِبَوْلٍ فَرَأَيْتُهُ قَبْلَ أَنْ يُقْبَضَ بِعَامٍ يَسْتَقْبِلُهَا
Dari Jabir bin Abdillah beliau berkata Nabiyullah (Muhammad) shollallahu alaihi wasallam melarang seseorang kencing menghadap kiblat. Aku melihat setahun sebelum beliau meninggal, beliau (kencing) menghadap kiblat (H.R Abu Dawud, dihasankan atTirmidzi, dishahihkan al-Bukhari, Ibnu Khuzaimah, al-Hakim, disepakati adz-Dzahaby)
Syaikh Abdul Muhsin al-Abbad menjelaskan bahwa hadits Jabir tersebut bukanlah penghapus hukum sebelumnya secara mutlak, namun penjelasan bahwa hal itu diperbolehkan jika berada di dalam ruangan atau antara dirinya dan kiblat terdapat penghalang (Syarh Sunan Abi Dawud li Abdil Muhsin al-Abbad (1/99)).
Namun, tetap saja menghindari menghadap atau membelakangi kiblat ketika kencing atau buang air besar adalah sesuatu yang lebih utama. Karena itu, bagi yang akan membangun toilet, hendaknya diarahkan tidak menghadap atau membelakangi kiblat.
Jelaskan Definisi, Adab dan Hukum Terkait Istinja’
Jawab:
Definisi Istinja’, secara bahasa artinya memutus/ memotong.
Secara istilah, istinja’ artinya: menghilangkan (kotoran) yang keluar dari dua jalan (kemaluan dan dubur) dengan air, batu, dan semisalnya.Secara asal, istinja’ menggunakan air dan atau batu (disebut juga istijmar). Jika ada pilihan menggunakan salah satu, air lebih utama. Namun, jika sama-sama bisa digunakan, menggunakan batu terlebih dahulu, kemudian air. Itu lebih sempurna.
Jika tidak ditemukan adanya batu atau air, boleh menggunakan media lain yang kering dan padat serta bisa digunakan untuk istinja’, seperti kertas tisu, daun, ranting pohon, dan semisalnya, asalkan media itu suci (tidak najis) bukan sesuatu yang dimulyakan, bukan tulang, dan bisa digunakan untuk istinja’ pada 3 tempat usapan yang berbeda.
Hukum istinja’ adalah wajib, setelah selesai kencing atau buang air besar.
عَنْ سَلْمَانَ قَالَ قِيلَ لَهُ قَدْ عَلَّمَكُمْ نَبِيُّكُمْ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كُلَّ شَيْءٍ حَتَّى الْخِرَاءَةَ قَالَ فَقَالَ أَجَلْ لَقَدْ نَهَانَا أَنْ نَسْتَقْبِلَ الْقِبْلَةَ لِغَائِطٍ أَوْ بَوْلٍ أَوْ أَنْ نَسْتَنْجِيَ بِالْيَمِينِ أَوْ أَنْ نَسْتَنْجِيَ بِأَقَلَّ مِنْ ثَلَاثَةِ أَحْجَارٍ أَوْ أَنْ نَسْتَنْجِيَ بِرَجِيعٍ أَوْ بِعَظْمٍ
Dari Salman –radhiyallahu anhu-, dikatakan kepada beliau: Apakah Nabi kalian mengajarkan segala sesuatu sampai masalah buang air? Beliau menjawab: Ya. Beliau telah melarang kami kencing atau buang air besar menghadap kiblat, atau beristinja’ dengan tangan kanan, beristinja’ dengan kurang dari 3 batu, atau beristinja’ dengan kotoran (hewan) atau dengan tulang (H.R Muslim)
Sebelumnya, hendaknya seseorang mempersiapkan sesuatu yang dibutuhkan untuk istinja’ (seperti air) dan penegak tirai penutup (jika belum ada). Sebagaimana Anas bin Malik dan seorang Sahabat lain yang masih kecil mempersiapkan hal-hal yang dibutuhkan Nabi ketika akan buang air.
عَنْ أَنَسٍ قاَلَ كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَدْخُلُ الْخَلَاءَ فَأَحْمِلُ أَنَا وَغُلَامٌ إِدَاوَةً مِنْ مَاءٍ وَعَنَزَةً يَسْتَنْجِي بِالْمَاءِ
Dari Anas bin Malik –radhiyallahu anhu-beliau berkata: Rasulullah shollallahu alaihi wasallam masuk ke dalam toilet kemudian aku dan seorang anak kecil –sebaya denganku- membawa segayung air dan tongkat. Beliau beristinja’ dengan air (H.R al-Bukhari dan Muslim)
Bolehkah Seorang Laki-laki Kencing Berdiri?
Jawab:
Boleh. Nabi shollallahu alaihi wasallam pernah kencing dalam keadaan berdiri.
عَنْ حُذَيْفَةَ قَالَ أَتَى النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ سُبَاطَةَ قَوْمٍ فَبَالَ قَائِمًا ثُمَّ دَعَا بِمَاءٍ فَجِئْتُهُ بِمَاءٍ فَتَوَضَّأَ
Dari Hudzaifah –radhiyallahu anhuma- beliau berkata: Nabi shollallahu alaihi wasallam mendatangi tempat sampah suatu kaum, kemudian kencing berdiri. Kemudian beliau meminta air, maka aku mendatangi beliau dengan membawa air kemudian beliau berwudhu’ (H.R al-Bukhari dan Muslim)
Boleh bagi seorang laki-laki kencing berdiri dengan syarat:
- Aman dari terlihatnya aurat.
- Aman dari percikan air yang bisa mengenai tubuh atau pakaiannya.
(disarikan dari asy-Syarhul Mumti’ ala Zaadil Mustaqni’ (1/116)).
Apa Saja Adab-Adab Kencing Atau Buang Air Besar?
Jawab:
Beberapa adab-adab buang air adalah :
1. Menjauh/ menutup diri dari pandangan manusia
عَنْ جَابِرٍ قَالَ خَرَجْنَا مَعَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي سَفَرٍ وَكَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَا يَأْتِي الْبَرَازَ حَتَّى يَتَغَيَّبَ فَلَا يُرَى
Dari Jabir –radhiyallahu anhuma- beliau berkata: Kami keluar bersama Rasulullah shollallahu alaihi wasallam dalam perjalanan (safar) dan Rasulullah shollallahu alaihi wasallam tidaklah mendatangi tempat buang air sampai beliau menghilang dan tidak terlihat (H.R Abu Dawud, Ibnu Majah, dishahihkan al-Albany)
2. Mengucapkan bismillah dan doa masuk toilet
سِتْرُ مَا بَيْنَ الْجِنِّ وَعَوْرَاتِ بَنِي آدَمَ إِذَا دَخَلَ الْكَنِيفَ أَنْ يَقُولَ بِسْمِ اللَّهِ
Penutup antara (pandangan) Jin dan aurat anak Adam jika akan memasuki kamar kecil adalah dengan mengucapkan : Bismillah (H.R atTirmidzi dan Ibnu Majah, dishahihkan al-Albany)
عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا دَخَلَ الْخَلَاءَ قَالَ اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنَ الْخُبُثِ وَالْخَبَائِثِ
Dari Anas bin Malik –radhiyallahu anhu- beliau berkata: Nabi shollallahu alaihi wasallam jika akan memasuki kamar kecil berdoa: Allaahumma innii a’udzu bika minal khubutsi wal khobaa-its (Ya Allah sesungguhnya aku berlindung kepadaMu dari syaithan laki-laki dan perempuan)(H.R al-Bukhari dan Muslim)
3. Mendahulukan kaki kiri untuk masuk ke toilet dibandingkan kaki kanan. Keluar dari toilet dengan kaki kanan terlebih dahulu.
Tidak ada dalil khusus dalam hal ini. Namun, sebagian Ulama’ memasukkannya dalam qiyas. Kaki kanan didahulukan untuk masuk ke tempat yang suci, seperti masjid, dsb. Demikian juga memakai sandal dimulai dengan kanan, dan ketika melepas didahului dengan kiri. Sebaliknya, untuk ke tempat-tempat kotor, didahulukan kaki (asy-Syarhul Mumti’ ala Zaadil Mustaqni’ (1/108).
4. Tidak membawa masuk ke dalam toilet benda-benda yang berisi penyebutan ‘Allah’, Nama-nama Allah atau Sifat-Sifat-Nya (Taudhiihul Ahkam (1/303).
عَنْ أَنَسٍ قَالَ كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا دَخَلَ الْخَلَاءَ وَضَعَ خَاتَمَهُ
Dari Anas –radhiyallahu anhu-beliau berkata: Nabi shollallahu alaihi wasallam jika masuk ke kamar kecil beliau meletakkan cincinnya (terlebih dahulu) (H.R Abu Dawud, atTirmidzi, anNasaai, Ibnu Majah)
Hadits tersebut diperselisihkan keshahihannya. Sebagian Ulama’ melemahkan, di antaranya Abu Dawud, anNasaai, Ibnul Qoyyim, dan al-Albany. Namun, hadits ini dinyatakan sah (shahih atau hasan) oleh sebagian para Ulama’ di antaranya atTirmidzi, al-Hakim, Ibnu Hibban, anNawawy, al-Mundziri, Ibnul Mulaqqin.
Dijelaskan dalam hadits Anas bin Malik riwayat al-Bukhari dan Muslim bahwa cincin Nabi adalah dari perak bertuliskan “Muhammad Rasulullah”. Cincin itu juga sebagai stempel terhadap surat yang beliau kirim.
5. Tidak menghadap ke arah kiblat atau membelakanginya.
Jika seseorang di tempat terbuka, seperti di sungai, dan semisalnya, haram baginya untuk menghadap atau membelakangi kiblat ketika kencing atau buang air besar.
إِذَا جَلَسَ أَحَدُكُمْ عَلَى حَاجَتِهِ فَلَا يَسْتَقْبِلْ الْقِبْلَةَ وَلَا يَسْتَدْبِرْهَا
Jika salah seorang dari kalian duduk untuk menunaikan hajatnya (kencing atau buang air besar) janganlah menghadap ke arah kiblat atau membelakanginya (H.R Muslim dari Abu Hurairah)
Ketika seseorang sedang/ hendak membangun toilet, janganlah tempat buang airnya dirancang menghadap atau membelakangi kiblat, namun hendaknya diarahkan tidak ke arah kiblat. Kalau di Indonesia sebaiknya dirancang menghadap arah Utara atau Selatan.
6. Tidak berbicara ketika kencing atau buang air besar kecuali ada keperluan yang mendesak.
Menjawab salam adalah kewajiban. Namun, Nabi shollallahu alaihi wasallam pada saat kencing dan ada orang yang mengucapkan salam pada beliau, beliau tidak menjawabnya.
عَنِ ابْنِ عُمَرَ قَالَ مَرَّ رَجُلٌ عَلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَهُوَ يَبُولُ فَسَلَّمَ عَلَيْهِ فَلَمْ يَرُدَّ عَلَيْهِ السَّلَامَ
Dari Ibnu Umar –radhiyallahu anhuma- beliau berkata: Seorang laki-laki melewati Nabi shollallahu alaihi wasallam yang sedang kencing. Laki-laki itu mengucapkan salam, namun Nabi tidak menjawab salamnya (H.R anNasaai)
7. Tidak memegang kemaluan pada saat kencing dengan tangan kanan.
لَا يُمْسِكَنَّ أَحَدُكُمْ ذَكَرَهُ بِيَمِينِهِ وَهُوَ يَبُولُ وَلَا يَتَمَسَّحْ مِنَ الْخَلَاءِ بِيَمِينِه
Janganlah seseorang dari kalian memegang kemaluannya dengan tangan kanan pada saat ia kencing dan jangan beristinja’ dengan tangan kanannya (H.R Muslim dari Abu Qotadah).
Larangan tersebut berlaku jika memungkinkan untuk menggunakan tangan kiri. Namun, jika keadaan tidak memungkinkan, harus menggunakan tangan kanan, maka tidak mengapa (asy-Syarhul Mukhtashar ala Bulughil Maram libni Utsaimin (2/122)).
8. Tidak kencing pada air yang menggenang, tidak mengalir.
عَنْ جَابِرٍ عَنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّهُ نَهَى أَنْ يُبَالَ فِي الْمَاءِ الرَّاكِدِ
Dari Jabir –radhiyallahu anhuma- dari Rasulullah shollallahu alaihi wasallam bahwasanya beliau melarang kencing pada air yang tenang (tidak mengalir)(H.R Muslim)
9. Tidak kencing atau buang air besar di tempat berteduhnya manusia atau di jalan yang dilalui.
اتَّقُوا اللَّعَّانَيْنِ قَالُوا وَمَا اللَّعَّانَانِ يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالَ الَّذِي يَتَخَلَّى فِي طَرِيقِ النَّاسِ أَوْ فِي ظِلِّهِمْ
Jauhilah (jangan kencing atau buang air besar) di dua tempat yang terlaknat. Para Sahabat bertanya: Apa itu dua tempat yang terlaknat? Nabi bersabda: di jalan manusia atau tempat berteduh mereka (H.R Muslim)
Juga dilarang untuk kencing atau buang air besar di tempat-tempat yang menyebabkan kesusahan bagi manusia yang lain.
Seperti kencing di tempat mandi, seperti bak mandi, bathtub, dan semisalnya.
عَنْ عَبْدِ اللهِ بْنِ اْلمغَفَّلِ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ نَهَى أَنْ يَبُوْلَ الرَّجُلُ فِي مُغْتَسَلِهِ فَإِنَّ عَامَّةَ الْوَسْوَاسِ يَكُوْنُ مِنْهُ
Dari Abdullah bin al-Mughoffal bahwasanya Nabi shollallahu alaihi wasallam melarang seseorang kencing di tempat mandinya karena kebanyakan was-was berasal dari itu (H.R Ibnu Hibban dalam Shahihnya)
Beristinja’ dengan air, batu, atau alat-alat lain yang bisa digunakan untuk membersihkan kemaluan atau lubang dubur dari kencing dan kotoran. Rincian penjelasan istinja’ akan dijelaskan berikutnya, InsyaAllah.
10. Setelah itu, menyiram bekas kencing atau kotoran sampai bersih.
11. Keluar dari toilet dengan membaca: Ghufroonaka
عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ إِذَا خَرَجَ مِنَ الْغَائِطِ قَالَ غُفْرَانَكَ
Dari Aisyah radhiyallahu anha bahwa Nabi shollallahu alaihi wasallam jika keluar dari toliet beliau mengucapkan : Gufroonaka (semoga ampunan dariMu)(H.R Abu Dawud, atTirmidzi, anNasaai, Ibnu Majah, dishahihkan al-Hakim, Ibnu Hibban, al-Albany)
(Poin-poin di atas disarikan dari asy-Syarhul Mumti’ ala Zaadil Mustaqni’ dan Shahih Fiqhissunnah)
Bersambung insya Allah....
Label:
Dzikir
Diposting oleh
Abu Ahmad bin Wakhid
23.31
Waktu Dzikir
- Dzikir pagi : dari setelah sholat Subuh hingga waktu tergelincirnya matahari.
- Dzikir sore (al-masaa’) : dari setelah tergelincirnya matahari hingga tenggelam matahari.
(Fatwa al-Lajnah ad-Daaimah (no 20078)
Hadits-Hadits tentang Bacaan Dzikir Pagi dan Sore
عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ أُبَيِّ بْنِ كَعْبٍ ، عَنْ أَبِيهِ ، أَنَّهُ " كَانَ لَهُ جُرْنٌ مِنْ تَمْرٍ ، فَكَانَ يَنْقُصُ ، فَحَرَسَهُ ذَاتَ لَيْلَةٍ ، فَإِذَا هُوَ بِدَابَّةٍ شِبْهِ الْغُلامِ الْمُحْتَلِمِ ، فَسَلَّمَ عَلَيْهِ ، فَرَدَّ عَلَيْهِ السَّلامَ ، فَقَالَ : مَا أَنْتَ ، جِنِّيٌّ أَمْ إِنْسِيٌّ ؟ ، قَالَ : لا بَلْ جِنِّيٌّ ، قَالَ : فَنَاوِلْنِي يَدَكَ ، فَنَاوَلَهُ يَدَهُ ، فَإِذَا يَدُهُ يَدُ كَلْبٍ ، وَشَعْرُهُ شَعْرُ كَلْبٍ ، قَالَ : هَكَذَا خَلْقُ الْجِنِّ ، قَالَ : قَدْ عَلِمَتِ الْجِنُّ أَنَّ مَا فِيهِمْ رَجُلٌ أَشَدُّ مِنِّي ، قَالَ : فَمَا جَاءَ بِكَ ؟ قَالَ : بَلَغَنَا أَنَّكَ تُحِبُّ الصَّدَقَةَ ، فَجِئْنَا نُصِيبُ مِنْ طَعَامِكَ ، قَالَ : فَمَا يُنْجِينَا مِنْكُمْ ؟ قَالَ : هَذِهِ الآيَةُ الَّتِي فِي سُورَةِ الْبَقَرَةِ : اللَّهُ لا إِلَهَ إِلا هُوَ الْحَيُّ الْقَيُّومُ مَنْ قَالَهَا حِينَ يُمْسِي أُجِيرَ مِنَّا حَتَّى يُصْبِحَ ، وَمَنْ قَالَهَا حِينَ يُصْبِحُ أُجِيرَ مِنَّا حَتَّى يُمْسِيَ ، فَلَمَّا أَصْبَحَ أَتَى رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَذَكَرَ ذَلِكَ لَهُ ، فَقَالَ : صَدَقَ الْخَبِيثُ
Dari Muhammad bin Ubay bin Ka’ab dari ayahnya bahwasanya ia memiliki semangkuk kurma yang berkurang jumlahnya. Maka suatu malam ia menjaganya. Ternyata ada binatang yang sebesar anak remaja baru baligh. Maka ia mengucapkan salam, dan makhluk itu menjawab salamnya. Kemudian Ubay bin Ka’ab bertanya: Apakah engkau ini? Manusia atau Jin? Ia mengatakan: Aku adalah Jin. Ubay berkata: Ulurkan tanganmu. Iapun mengulurkan tangannya. Ternyata tangannya adalah tangan anjing dan bulunya bulu anjing. Ia berkata: Demikianlah perawakan Jin. Para Jin telah mengetahui bahwa tidak ada seorangpun yang lebih kuat dari saya. Ubay bertanya: Apa yang menyebabkan engkau ke sini? Ia berkata: Telah sampai kepada kami bahwa engkau suka bershodaqoh. Maka kami datang untuk mengambil sebagian makananmu. Ubay bertanya: Apa yang bisa menyelamatkan kami dari kalian? Ia mengatakan: Ayat dalam surat al-Baqoroh: Allaahu Laa Ilaaha Illaa huwal Hayyul Qoyyum (ayat kursi), barangsiapa yang membacanya ketika sore, akan dilindungi dari kami hingga pagi. Barangsiapa yang membacanya ketika pagi, akan dilindungi dari kami hingga sore. Pagi harinya Ubay bin Ka’ab menceritakan kejadian itu kepada Rasulullah shollallahu alaihi wasallam dan beliau bersabda: telah benar ucapan al-Khobits (Jin syaithan)(H.R anNasaai dan atThobarony, dinyatakan sanadnya jayyid (baik) oleh al-Mundziri dan dishahihkan al-Albany)
Pada hadits-hadits berikut ini, bagian yang di antara dua kurung kurawal adalah bacaan dzikir atau doanya.
عَنْ عَبْدِ اللَّهِ قَالَ كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا أَمْسَى قَالَ }} أَمْسَيْنَا وَأَمْسَى الْمُلْكُ لِلَّهِ وَالْحَمْدُ لِلَّهِ وَلَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ أَسْأَلُكَ خَيْرَ مَا فِي هَذِهِ اللَّيْلَةِ وَخَيْرَ مَا بَعْدَهَا وَأَعُوذُ بِكَ مِنْ شَرِّ هَذِهِ اللَّيْلَةِ وَشَرِّ مَا بَعْدَهَا وَأَعُوذُ بِكَ مِنْ الْكَسَلِ وَسُوءِ الْكِبَرِ وَأَعُوذُ بِكَ مِنْ عَذَابِ النَّارِ وَعَذَابِ الْقَبْرِ{{ وَإِذَا أَصْبَحَ قَالَ ذَلِكَ أَيْضًا أَصْبَحْنَا وَأَصْبَحَ الْمُلْكُ لِلَّهِ وَالْحَمْدُ لِلَّهِ
Dari Abdullah (bin Mas’ud) radhiyallahu anhu beliau berkata: Nabi shollallahu alaihi wasallam jika berada di waktu sore berdoa: Kami berada di waktu sore, dan di waktu sore ini kekuasaan hanyalah milik Allah dan pujian hanya milik Allah, tidak ada sesembahan yang haq kecuali Allah satu-satunya tidak ada sekutu baginya. MilikNyalah kekuasaan dan milikNyalah pujian dan Dia Maha berkuasa di atas segala sesuatu. Aku meminta kepadaMu kebaikan malam ini dan kebaikan setelahnya. Dan aku berlindung dari keburukan malam ini dan keburukan setelahnya dan aku berlindung kepadaMu dari kemalasan dan keburukan di masa tua dan aku berlindung kepadaMu dari adzab anNaar dan adzab kubur. Jika berada di waktu pagi juga mengucapkan: Kami berada di waktu pagi pada saat kekuasaan hanya milik Allh dan pujian hanya untuk Allah. (H.R Muslim, Abu Dawud, atTirmidzi, lafadz sesuai riwayat atTirmidzi).
سَيِّدُ الِاسْتِغْفَارِ أَنْ تَقُولَ }} اللَّهُمَّ أَنْتَ رَبِّي لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ خَلَقْتَنِي وَأَنَا عَبْدُكَ وَأَنَا عَلَى عَهْدِكَ وَوَعْدِكَ مَا اسْتَطَعْتُ أَعُوذُ بِكَ مِنْ شَرِّ مَا صَنَعْتُ أَبُوءُ لَكَ بِنِعْمَتِكَ عَلَيَّ وَأَبُوءُ لَكَ بِذَنْبِي فَاغْفِرْ لِي فَإِنَّهُ لَا يَغْفِرُ الذُّنُوبَ إِلَّا أَنْتَ {{ قَالَ وَمَنْ قَالَهَا مِنْ النَّهَارِ مُوقِنًا بِهَا فَمَاتَ مِنْ يَوْمِهِ قَبْلَ أَنْ يُمْسِيَ فَهُوَ مِنْ أَهْلِ الْجَنَّةِ وَمَنْ قَالَهَا مِنْ اللَّيْلِ وَهُوَ مُوقِنٌ بِهَا فَمَاتَ قَبْلَ أَنْ يُصْبِحَ فَهُوَ مِنْ أَهْلِ الْجَنَّةِ
Sayyidul Istighfar adalah engkau mengucapkan (yang artinya) {{ Ya Allah Engkau adalah Tuhanku Tidak ada sesembahan yang berhaq disembah kecuali Engkau. Engkau menciptakan aku, aku hambaMu, dan aku akan berusaha memenuhi perjanjian denganmu semaksimal mungkin sesuai kemampuanku. Aku berlindung kepadaMu dari keburukan perbuatanku. Aku mengakui seluruh nikmatMu untukku dan aku mengakui seluruh dosaku. Maka ampunilah aku, karena sesungguhnya tidak ada yang bisa mengampuni dosa kecuali Engkau }} Barangsiapa yang mengucapkannya di waktu siang dengan yakin, kemudian meninggal di hari itu sebelum sore, maka ia termasuk penduduk al-Jannah. Barangsiapa yang mengucapkannya di waktu malam dengan yakin dan meninggal sebelum pagi, maka ia termasuk penduduk al-Jannah (H.R al-Bukhari dari Syaddad bin Aus)
عَنْ مُعَاذِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ خُبَيْبٍ عَنْ أَبِيهِ أَنَّهُ قَالَ خَرَجْنَا فِي لَيْلَةِ مَطَرٍ وَظُلْمَةٍ شَدِيدَةٍ نَطْلُبُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لِيُصَلِّيَ لَنَا فَأَدْرَكْنَاهُ فَقَالَ أَصَلَّيْتُمْ فَلَمْ أَقُلْ شَيْئًا فَقَالَ قُلْ فَلَمْ أَقُلْ شَيْئًا ثُمَّ قَالَ قُلْ فَلَمْ أَقُلْ شَيْئًا ثُمَّ قَالَ قُلْ فَقُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ مَا أَقُولُ قَالَ قُلْ قُلْ هُوَ اللَّهُ أَحَدٌ وَالْمُعَوِّذَتَيْنِ حِينَ تُمْسِي وَحِينَ تُصْبِحُ ثَلَاثَ مَرَّاتٍ تَكْفِيكَ مِنْ كُلِّ شَيْءٍ
Dari Muadz bin Abdillah bin Khubaib dari ayahnya bahwasanya ia berkata: Kami keluar di malam yang hujan sangat gelap, mencari Rasulullah shollallahu alaihi wasallam untuk sholat bersama kami. Kemudian kami mendapati beliau. Beliau bersabda: Apakah kalian sudah sholat? Aku tidak berkata apapun. Kemudian Nabi berkata: Katakanlah. Aku tidak mengatakan apapun. Kemudian beliau berkata: Katakanlah. Aku tidak mengatakan apapun. Kemudian Nabi berkata: Katakanlah. Maka aku berkata: Wahai Rasulullah apa yang aku katakan? Beliau menjawab: Ucapkanlah Qul huwallahu ahad dan al-Muawwidzatain (al-Falaq dan anNaas) ketika sore dan ketika pagi 3 kali, hal itu akan mencukupi engkau (perlindungan) dari segala sesuatu (H.R Abu Dawud, atTirmidzi, dihasankan al-Albany)
ا مِنْ عَبْدٍ يَقُولُ فِي صَبَاحِ كُلِّ يَوْمٍ وَمَسَاءِ كُلِّ لَيْلَةٍ}} بِسْمِ اللَّهِ الَّذِي لَا يَضُرُّ مَعَ اسْمِهِ شَيْءٌ فِي الْأَرْضِ وَلَا فِي السَّمَاءِ وَهُوَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ {{ ثَلَاثَ مَرَّاتٍ لَمْ يَضُرَّهُ شَيْءٌ
Tidaklah ada seorang hamba yang mengucapkan di waktu pagi hari atau sore di malam hari (yang artinya): {{ Dengan Nama Allah yang tidak ada yang memudharatkan bersamaan dengan NamaNya (disebut) segala sesuatu di bumi maupun di langit dan Dia adalah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui }} tiga kali, maka tidak ada sesuatupun yang memudharatkan (membahayakannya)(H.R Abu Dawud, atTirmidzi, anNasaai, Ibnu Majah, dishahihkan Ibnu Hibban dan al-Albany)
مَنْ قَالَ إِذَا أَمْسَى ثَلَاثَ مَرَّاتٍ }}أَعُوذُ بِكَلِمَاتِ اللَّهِ التَّامَّاتِ مِنْ شَرِّ مَا خَلَقَ {{لَمْ تَضُرَّهُ حُمَةٌ تِلْكَ اللَّيْلَةَ قَالَ فَكَانَ أَهْلُنَا قَدْ تَعَلَّمُوهَا فَكَانُوا يَقُولُونَهَا فَلُدِغَتْ جَارِيَةٌ مِنْهُمْ فَلَمْ تَجِدْ لَهَا وَجَعًا
Barangsiapa yang mengucapkan ketika sore tiga kali (yang artinya): { Aku berlindung dengan kalimat-kalimat Allah yang sempurna dari keburukan makhluk } tidak akan memudharatkannya sengatan (binatang) pada malam itu. (Suhail) berkata: keluarga kami mempelajarinya. Mereka berkata bahwa pernah anak perempuan mereka disengat (binatang) tapi tidak merasa sakit (H.R atTirmidzi, Ahmad, dishahihkan Ibnu Hibban dan al-Albany).
عَنْ جُوَيْرِيَةَ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ خَرَجَ مِنْ عِنْدِهَا بُكْرَةً حِينَ صَلَّى الصُّبْحَ وَهِيَ فِي مَسْجِدِهَا ثُمَّ رَجَعَ بَعْدَ أَنْ أَضْحَى وَهِيَ جَالِسَةٌ فَقَالَ مَا زِلْتِ عَلَى الْحَالِ الَّتِي فَارَقْتُكِ عَلَيْهَا قَالَتْ نَعَمْ قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَقَدْ قُلْتُ بَعْدَكِ أَرْبَعَ كَلِمَاتٍ ثَلَاثَ مَرَّاتٍ لَوْ وُزِنَتْ بِمَا قُلْتِ مُنْذُ الْيَوْمِ لَوَزَنَتْهُنَّ }}سُبْحَانَ اللَّهِ وَبِحَمْدِهِ عَدَدَ خَلْقِهِ وَرِضَا نَفْسِهِ وَزِنَةَ عَرْشِهِ وَمِدَادَ كَلِمَاتِهِ {{
Dari Juwairiyah –radhiyallahu anha- bahwa Nabi shollallahu alaihi wasallam keluar dari sisinya pada pagi hari ketika sholat Subuh pada saat ia masih di tempat sholatnya, kemudian Nabi kembali setelah masuk waktu Dhuha, Juwairiyah masih duduk. Nabi bertanya: Apakah engkau masih dalam keadaan ini sejak aku meninggalkanmu tadi? Juwairiyah mengatakan: Ya. Nabi shollallahu alaihi wasallam bersabda: Sungguh tadi aku telah mengucapkan 4 kalimat tiga kali yang jika ditimbang dengan apa yang engkau baca sejak hari ini, niscaya akan mencukupinya. Yaitu bacaan (yang artinya): Maha Suci Allah dan aku memujiNya, sebanyak makhluknya,hingga Ia ridha, dan seberat timbangan Arsynya, dan sejumlah Kalimat-KalimatNya (H.R Muslim)
وَعَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لِفَاطِمَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهَا مَا يَمْنَعُكِ أَنْ تَسْمَعِي مَا أُوْصِيْكَ بِهِ أَنْ تَقُوْلِي إِذَا أَصْبَحْتِ وَإِذَا أَمْسَيْتِ }}يَا حَيُّ يَا قَيُّوْمُ بِرَحْمَتِكَ أَسْتَغِيْثُ أَصْلِحْ لِي شَأْنِي كُلَّهُ وَلَا تَكِلْنِي إِلَى نَفْسِي طَرْفَةَ عَيْنٍ{{
Dari Anas bin Malik radhiyallahu anhu beliau berkata: Rasulullah shollallahu alaihi wasallam bersabda kepada Fathimah radhiyallahu anha: Apa yang mencegahmu untuk mendengar wasiatku kepadamu? Hendaknya engkau membaca saat pagi dan petang : Wahai Yang Maha Hidup dan Menegakkan (segala sesuatu), dengan rahmatMu aku beristighotsah. Perbaikilah keadaanku seluruhnya dan janganlah Engkau menyerahkan (urusan) kepadaku (sendiri, tanpa pertolonganMu) walaupun sekejap mata (H.R anNasaai, dishahihkan al-Hakim dan al-Albany)
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ أَنَّ أَبَا بَكْرٍ الصِّدِّيقَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ مُرْنِي بِكَلِمَاتٍ أَقُولُهُنَّ إِذَا أَصْبَحْتُ وَإِذَا أَمْسَيْتُ قَالَ قُلْ }} اللَّهُمَّ فَاطِرَ السَّمَوَاتِ وَالْأَرْضِ عَالِمَ الْغَيْبِ وَالشَّهَادَةِ رَبَّ كُلِّ شَيْءٍ وَمَلِيكَهُ أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ أَعُوذُ بِكَ مِنْ شَرِّ نَفْسِي وَشَرِّ الشَّيْطَانِ وَشِرْكِهِ {{قَالَ قُلْهَا إِذَا أَصْبَحْتَ وَإِذَا أَمْسَيْتَ وَإِذَا أَخَذْتَ مَضْجَعَكَ
Dari Abu Hurairah radhiyallahu anhu bahwa Abu Bakr ash-Shiddiq radhiyallahu anhu berkata: Wahai Rasulullah, perintahkan aku dengan kalimat-kalimat yang aku baca jika pagi dan sore. Nabi bersabda: Ucapkanlah : Ya Allah Pencipta langit dan bumi, Yang Maha Mengetahui yang ghaib maupun yang nampak. Tuhan segala sesuatu dan Penguasanya. Aku bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang haq kecuali Engkau. Aku berlindung kepadamu dari keburukan jiwaku, dan dari keburukan syaithan dan ajakannya kepada kesyirikan. Nabi bersabda: Ucapkanlah itu ketika pagi, sore, dan ketika engkau naik ke pembaringan (akan tidur)(H.R Abu Dawud, atTirmidzi, dinyatakan sanadnya shahih oleh al-Munawi dan dishahihkan al-Albany)
عَنِ ابْنِ عُمَرَ قَالَ لَمْ يَكُنْ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَدَعُ هَؤُلَاءِ الدَّعَوَاتِ حِينَ يُمْسِي وَحِينَ يُصْبِحُ }} اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ الْعَفْوَ وَالْعَافِيَةَ فِي الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ الْعَفْوَ وَالْعَافِيَةَ فِي دِينِي وَدُنْيَايَ وَأَهْلِي وَمَالِي اللَّهُمَّ اسْتُرْ عَوْرَاتِي وَآمِنْ رَوْعَاتِي وَاحْفَظْنِي مِنْ بَيْنِ يَدَيَّ وَمِنْ خَلْفِي وَعَنْ يَمِينِي وَعَنْ شِمَالِي وَمِنْ فَوْقِي وَأَعُوذُ بِكَ أَنْ أُغْتَالَ مِنْ تَحْتِي {{
Dari Ibnu Umar radhiyallahu anhu beliau berkata: Rasulullah shollallahu alaihi wasallam tidak pernah meninggalkan doa ini ketika sore maupun pagi: Ya Allah sesungguhnya aku meminta pemaafan dan afiat di dunia dan akhirat. Ya Allah sesungguhnya aku meminta pemaafan dan afiat pada Dienku, dan kehidupan duniaku, keluargaku, dan hartaku. Ya Allah tutuplah auratku dan berilah perasaan aman dalam hatiku, dan jagalah aku dari arah depan, dari belakang, dari kanan, dari kiri, dari atas, dan aku berlindung kepadaMu dari ditenggelamkan ke dalam bumi dari arah bawah (H.R Abu Dawud, Ibnu Majah, lafadz sesuai Ibnu Majah, dishahihkan al-Hakim dan al-Albany)
عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ أَبْزَى عَنْ أَبِيهِ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يَقُولُ إِذَا أَصْبَحَ وَإِذَا أَمْسَى }} أَصْبَحْنَا عَلَى فِطْرَةِ الْإِسْلَامِ وَعَلَى كَلِمَةِ الْإِخْلَاصِ وَعَلَى دِينِ نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَعَلَى مِلَّةِ أَبِينَا إِبْرَاهِيمَ حَنِيفًا وَمَا كَانَ مِنْ الْمُشْرِكِينَ {{
Dari Abdullah bin Abdirrohman bin Abza dari ayahnya bahwasanya Nabi shollallahu alaihi wasallam jika pagi dan jika sore mengucapkan : Kami berada dalam keadaan pagi (atau sore) di atas fitrah Islam dan di atas kalimat Ikhlas dan di atas Dien Nabi kami Muhammad shollallahu alaihi wasallam dan di atas agama ayah kami Ibrohim yang lurus dan beliau bukan termasuk orang-orang musyrikin (H.R Ahmad, anNasaai, dinyatakan sanadnya shahih oleh al-Munawy dan dishahihkan al-Albany)
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُعَلِّمُ أَصْحَابَهُ يَقُولُ إِذَا أَصْبَحَ أَحَدُكُمْ فَلْيَقُلْ }}اللَّهُمَّ بِكَ أَصْبَحْنَا وَبِكَ أَمْسَيْنَا وَبِكَ نَحْيَا وَبِكَ نَمُوتُ وَإِلَيْكَ الْمَصِيرُ وَإِذَا أَمْسَى فَلْيَقُلْ اللَّهُمَّ بِكَ أَمْسَيْنَا وَبِكَ أَصْبَحْنَا وَبِكَ نَحْيَا وَبِكَ نَمُوتُ وَإِلَيْكَ النُّشُورُ {{
Dari Abu Hurairah radhiyallahu anhu bahwasanya beliau berkata: Rasulullah shollallahu alaihi wasallam mengajari para Sahabatnya. Beliau bersabda: Jika salah seorang dari kalian berada di pagi hari ucapkanlah: Ya Allah denganMulah kami berada di waktu pagi, denganMulah kami berada di waktu sore, dan denganMulah kami hidup, dan denganMulah kami mati, dan kepadaMulah kami kembali. Dan jika berada di waktu sore ucapkanlah: Ya Allah denganMulah kami berada di waktu sore, dan denganMulah kami berada di waktu pagi, dan denganMulah kami hidup, dan denganMulah kami mati dan kepadaMulah kami dibangkitkan (H.R Abu Dawud, aTirmidzi, anNasaai, Ibnu Majah, dihasankan atTirmidzi dan dishahihkan al-Albany – lafadz sesuai riwayat atTirmidzi)
مَنْ قَالَ سُبْحَانَ الله مِائَةَ مَرَّةٍ قَبْلَ طُلُوْعِ الشَّمْسِ وَقَبْلَ غُرُوْبِهَا كَانَ أَفْضَل مِنْ مِائَةِ بَدَنَةٍ وَمَنْ قَالَ الْحَمْدُ لِلَّهِ مِائَةَ مَرَّةٍ قَبْلَ طُلُوْعِ الشَّمْسِ وَقَبْلَ غُرُوْبِهَا كَانَ أَفْضَل مِنْ مِائَةِ فَرَسٍ يُحْمَل عَلَيْهَا فِي سَبِيْلِ الله وَمَنْ قَالَ اللهُ أَكْبَر مِائَةَ مَرَّةٍ قَبْلَ طُلُوْعِ الشَّمْسِ وَقَبْلَ غُرُوْبِهَا كَانَ أَفْضَل مِنْ عِتْقِ مِائَةِ رَقَبَةً وَمَن ْقاَلَ لَا إِلَهَ إِلاَّ الله وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ مِائَةَ مَرَّةٍ قَبْلَ طُلُوْعِ الشَّمْسِ وَقَبْلَ غُرُوْبِهَا لَمْ يَجِىء يَوْمَ الْقِيَامَةِ أَحَدٌ بِعَمَلٍ أَفْضَلَ مِنْ عَمَلِهِ إِلاَّ مَنْ قَالَ مِثْلَ قَوْلِهِ أَوْ زَادَ عَلَيْهِ
Barangsiapa yang mengucapkan subhaanallah (Maha Suci Allah) seratus kali sebelum terbit matahari dan sebelum terbenamnya, itu lebih utama dibandingkan 100 unta. Barangsiapa yang mengucapkan Alhamdulillah (Segala puji bagi Allah) seratus kali sebelum terbit matahari dan sebelum terbenamnya itu lebih utama dibandingkan 100 kuda yang ditunggangi di jalan Allah. Barangsiapa yang mengucapkan Allahu Akbar (Allah Terbesar) seratus kali sebelum terbit matahari dan sebelum terbenamnya itu lebih utama dari memerdekakan seratus budak dan barangsiapa yang mengucapkan Laa Ilaaha Illallaah wahdahu laa syariika lah lahul mulku walahul hamdu wahuwa alaa kulli syai-in qodiir seratus kali sebelum terbit matahari dan sebelum terbenamnya, tidak ada seorangpun yang datang dengan membawa amalan yang lebih utama kecuali orang yang mengucapkan demikian atau menambahkan lebih dari itu (H.R anNasaai, dihasankan al-Albany)
مَنْ قَالَ إِذَا أَصْبَحَ مِائَةَ مَرَّةٍ وَإِذَا أَمْسَى مِائَةَ مَرَّةٍ سُبْحَانَ الله وَبِحَمْدِهِ غُفِرَتْ ذُنُوْبُهُ وَإِنْ كَانَتْ أَكْثَرَ مِنْ زَبَدِ الْبَحْرِ
Barangsiapa yang mengucapkan ketika pagi 100 kali dan ketika sore 100 kali : Subhanallah wa bihamdihi maka diampuni dosa-dosanya walaupun sebanyak buih di lautan (H.R Ibnu Abid Dunya dan al-Hakim, dishahihkan al-Albany)
مَنْ صَلَّى عَلَىَّ حِيْنَ يُصْبِحُ عَشْرًا وَ حِيْنَ يُمْسِي عَشْرًا أَدْرَكَتْهُ شَفَاعَتِي يَوْمَ الْقِيَامَةِ
Barangsiapa yang bersholawat kepada ketika pagi 10 kali dan ketika sore 10 kali, maka ia akan mendapatkan syafaatku pada hari kiamat (H.R atThobarony, dihasankan al-Albany dalam Shahih al-Jamius Shaghir)
عَنْ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنُ أَبِي بَكْرَةَ أَنَّهُ قَالَ لِأَبِيهِ يَا أَبَتِ إِنِّي أَسْمَعُكَ تَدْعُو كُلَّ غَدَاةٍ }} اللَّهُمَّ عَافِنِي فِي بَدَنِي اللَّهُمَّ عَافِنِي فِي سَمْعِي اللَّهُمَّ عَافِنِي فِي بَصَرِي لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ {{تُعِيدُهَا ثَلَاثًا حِينَ تُصْبِحُ وَثَلَاثًا حِينَ تُمْسِي وَتَقُولُ }} اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنْ الْكُفْرِ وَالْفَقْرِ اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنْ عَذَابِ الْقَبْرِ لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ {{ تُعِيدُهَا حِينَ تُصْبِحُ ثَلَاثًا وَثَلَاثًا حِينَ تُمْسِي قَالَ نَعَمْ يَا بُنَيَّ إِنِّي سَمِعْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَدْعُو بِهِنَّ فَأُحِبُّ أَنْ أَسْتَنَّ بِسُنَّتِهِ
Dari Abdurrahman bin Abi Bakrah bahwasanya ia berkata: Wahai ayahku, sesungguhnya aku mendengar engkau berdoa setiap pagi: Ya Allah berikanlah afiyat pada badanku. Ya Allah berikanlah afiyat pada pendengaranku. Ya Allah berikanlah afiyat pada penglihatanku. Tidak ada sesembahan yang haq kecuali Engkau. Abdurrohman berkata pada ayahnya: Anda mengulanginya 3 kali ketika pagi dan 3 kali ketika sore. Anda juga mengatakan: Ya Allah sesungguhnya aku berlindung kepadaMu dari kekufuran dan kefakiran. Ya Allah sesungguhnya aku berlindung kepadaMu dari adzab kubur. Tidak ada sesembahan yang haq kecuali Engkau. Anda mengulanginya 3 kali ketika pagi dan 3 kali ketika sore. Abu Bakrah menyatakan: Ya wahai anakku, sesungguhnya aku mendengar Nabi shollallahu alaihi wasallam berdoa dengan bacaan ini, maka aku senang jika menjalankan sunnah tersebut (H.R Ahmad, Abu Dawud, dihasankan al-Albany).
(disusun oleh: Abu Utsman Kharisman)
Fadhilatus Syaikh al-Muhaddits Muqbil bin Hadi Al-Wadi'y rohimahulloh.
Pertanyaan:
Kami sholat subuh di belakang imam yang membaca qunut maka apa yang mesti kami lakukan di tengah-tengah qunutnya dan terlebih lagi jika panjang doanya?
Jawaban:
Alhamdulillah dalil-dalil tidak ada yang tersesatkan, dan kami nasehatkan kepada Ahlussunnah jika kalian mampu untuk berbeda (tamayyuz) dengan para mubtadi' maka hendaknya mereka lakukan sekalipun mereka harus membuat masjid bagi mereka dengan susu, atau mereka membuat masjid untuk mereka dari zanji hingga Alloh mudahkan dengan didatangkan seorang pelaku kebaikan dan membuatkan masjid bagi mereka.
Adapun jika Anda terpaksa untuk itu maka sholat Anda (di belakang para mubtadi', pent) adalah sah insya Alloh, Anda akan tetapi jangan mengikutinya dalam qunut sekalipun orang-orang mengucapkan amin maka jangan mengaminkan.
Adapun mengangkat kedua tangan maka tidak shahih dari Nabi shollallohu 'alaihi wa sallam dan telah datang dari hadits Abdulloh bin Naafi' bin Abil 'Umyaa dan dia dho'if (rowi yg lemah), dan datang riwayat di dalam musnad Ahmad dengan sebuah hadits yang zhohirnya shahih akan tetapi hadits tsb diriwayatkan oleh Bukhori dan tidak ada padanya tambahan ini yaitu mengangkat kedua tangan, maka berdasarkan hal ini kami berlepas diri dan berdasarkan dho'if nya hadits mengangkat kedua tangan, maka Anda tidak mengaminkan setelahnya, dan Anda tetap diam dan sholat Anda sah insya Alloh, dan Rosul shollallohu 'alaihi wa sallam bersabda:
«صلوا فإن أصابوا فلكم ولهم، وإن أخطأوا فلكم وعليكم»
"Sholatlah kalian, maka jika mereka benar pahalanya bagi kalian dan bagi mereka, dan jika mereka salah maka pahala bagi kalian dan dosa atas mereka".
Dari kaset: Pertanyaan pemuda di Hadhromaut | Audio dapat didengar di: http://www.muqbel.net/fatwa.php?fatwa_id=2689 | Alih Bahasa: Muhammad Sholehuddin Abu Abduh.
------------------------------
من صلى خلف إمام يقنت في الفجر ماذا يصنع لفضيلة الشيخ الإمام مقبل بن هادي الوادعي رحمه الله تعالى السؤال:نصلي الفجر خلف إمام يقنت فماذا نصنع أثناء قنوته وخاصة إذا أطال الدعاء ؟ الإجابة:الحمد لله الأدلّة ليس بها تضليل ، وننصح أهل السّنّة إن استطاعوا أن يتميّزوا عن المبتدعة فليفعلوا ولو أن يبنوا لهم مسجدا من اللبن ، أو يصلّحوا لهم مسجدا من الزنج حتّى ييسّر الله بفاعل خير ويصلّح لهم مسجدهم. أمّأ إذا اضطررت إلى ذلك فصلاتك صحيحة إن شاء الله ، أنت لكن لا تتابعه في القنوت فلو أمّن النّاس لا تؤمّن .وأمّا رفع اليدين فلم يثبت عن النّبيّ – صلّى الله عليه وعلى آله وسلّم - وقد جاء من حديث عبد الله بن نافع بن أبي العمياء وهو ضعيف ، وجاء في مسند أحمد بحديث ظاهره الصحّة لكنّ الحديث في البخاري وليس فيه هذه الزيادة وهي رفع اليدين ، فعلى هذا نحن على البراءة وعلى ضعف حديث رفع اليدين ، فأنت لا تؤمّن بعده ، وتبقى واقفا وصلاتك صحيحة إن شاء الله ، والرّسول –صلّى الله عليه وعلى آله وسلّم - يقول : " صلّوا فإن أصابوا فلكم ولهم ، وإن أخطأوا فلكم وعليهم".
▪〰▫〰▪〰▫ من شريط : ( أسئلة شباب قصيعر في حضرموت ) .لسماع ولتحميل الفتوى صوتياً :
http://www.muqbel.net/fatwa.php?fatwa_id=2689
WA Ahlus Sunnah Karawang. ------------------------------