Belajar Fiqih Islami

IconMelandasi Amalan Ibadah dengan Ilmu Syar'i

Tampilkan postingan dengan label Adab. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Adab. Tampilkan semua postingan

Makan dan Minum, Berdiri atau Duduk?

Makan dan Minum, Berdiri atau Duduk

Berkata al-Imam an-Nawawi (Riyadhush Shalihin Bab 114):

  1. Dari Abdullah bin 'Abbas dia berkata:"Aku memberi minum Nabi shallallaahu 'alayhi wa sallam air zam-zam. Lalu beliau MINUM SAMBIL BERDIRI" (Muttafaqun 'Alayhi)
  2. Dari Nazzal bin Sabrah,dia berkata:" 'Ali mendatangi pintu ar-Rahabah. Lalu beliau MINUM SAMBIL BERDIRI dan berkata:"Sungguh aku melihat Rasulullah shallallaahu 'alayhi wa sallam berbuat seperti kalian lihat aku perbuat (minum sambil berdiri)" (H.R.Bukhari)
  3. Dari Abdullah bin 'Umar dia berkata:"Dahulu di masa Rasulullah shallallaahu 'alayhi wa sallam KAMI MAKAN DALAM KEADAAN BERJALAN dan MINUM SAMBIL BERDIRI"(H.R.at-Tirmidzi. Dishahihkan al-Albani).
  4. Dari 'Amr bin Syu'aib dari ayahnya dari kakeknya,dia berkata:"Aku telah melihat Rasulullah shallallaahu 'alayhi wa sallam minum (kadang) BERDIRI (kadang pula) dengan DUDUK(H.R. At-Tirmidzi. Dihasankan al-Albani)
  5. Dari Anas dari Nabi shallallaahu 'alayhi wa sallam:"Bahwasanya beliau melarang seseorang minum sambil berdiri." Berkata Qatadah:"Kami bertanya pada Anas:"Bagaimana dengan makan?"Anas berkata:"Itu lebih jelek dan lebih busuk"(H.R. Muslim). Dalam riwayat lain:"Bahwasanya Nabi shallallaahu 'alayhi wa sallam melarang dengan keras minum sambil berdiri."
  6. Dari Abu Hurairah,dia berkata: Rasulullah shallallaahu 'alayhi wa sallam bersabda:"SUNGGUH hendaknya salah seseorang diantara kalian JANGAN MINUM SAMBIL BERDIRI. Siapa yang lupa,hendaklah dia memuntahkannya"(H.R. Muslim).
Berkata asy-Syaikh Ibnu 'Utsaimin dalam syarh Riyadhush Shalihin( Hal 87 bab 114) :

"Maka yang afdhal ketika makan dan minum bagi seseorang hendaknya dengan duduk. Sebab ini adalah petunjuk Nabi shallallaahu 'alayhi wa sallam,yang mana beliau tidak makan dan tidak minum dengan berdiri. Adapun minum dengan berdiri,telah shahih dari Nabi shallallaahu 'alayhi wa sallam bahwasanya beliau melarang dari hal itu. Dan Anas bin Malik ditanya tentang makan (sambil berdiri-pent), dia berkata:"itu lebih jelek dan lebih busuk" Yakni maknanya bahwasanya bila minum sambil berdiri dilarang,maka makan sambil berdiri tentunya lebih utama (untuk dilarang-pent)

 
 

Fiqih Tentang Kencing dan Buang Air Besar [1]


Apa Saja Adab-Adab Kencing Atau Buang Air Besar?

Jawab:

Beberapa adab-adab buang air adalah :

1. Menjauh/ menutup diri dari pandangan manusia

عَنْ جَابِرٍ قَالَ خَرَجْنَا مَعَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي سَفَرٍ وَكَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَا يَأْتِي الْبَرَازَ حَتَّى يَتَغَيَّبَ فَلَا يُرَى

Dari Jabir –radhiyallahu anhuma- beliau berkata: Kami keluar bersama Rasulullah shollallahu alaihi wasallam dalam perjalanan (safar) dan Rasulullah shollallahu alaihi wasallam tidaklah mendatangi tempat buang air sampai beliau menghilang dan tidak terlihat (H.R Abu Dawud, Ibnu Majah, dishahihkan al-Albany)

2. Mengucapkan bismillah dan doa masuk toilet

سِتْرُ مَا بَيْنَ الْجِنِّ وَعَوْرَاتِ بَنِي آدَمَ إِذَا دَخَلَ الْكَنِيفَ أَنْ يَقُولَ بِسْمِ اللَّهِ

Penutup antara (pandangan) Jin dan aurat anak Adam jika akan memasuki kamar kecil adalah dengan mengucapkan : Bismillah (H.R atTirmidzi dan Ibnu Majah, dishahihkan al-Albany)

عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا دَخَلَ الْخَلَاءَ قَالَ اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنَ الْخُبُثِ وَالْخَبَائِثِ

Dari Anas bin Malik –radhiyallahu anhu- beliau berkata: Nabi shollallahu alaihi wasallam jika akan memasuki kamar kecil berdoa: Allaahumma innii a’udzu bika minal khubutsi wal khobaa-its (Ya Allah sesungguhnya aku berlindung kepadaMu dari syaithan laki-laki dan perempuan)(H.R al-Bukhari dan Muslim)

3. Mendahulukan kaki kiri untuk masuk ke toilet dibandingkan kaki kanan. Keluar dari toilet dengan kaki kanan terlebih dahulu.

Tidak ada dalil khusus dalam hal ini. Namun, sebagian Ulama’ memasukkannya dalam qiyas. Kaki kanan didahulukan untuk masuk ke tempat yang suci, seperti masjid, dsb. Demikian juga memakai sandal dimulai dengan kanan, dan ketika melepas didahului dengan kiri. Sebaliknya, untuk ke tempat-tempat kotor, didahulukan kaki (asy-Syarhul Mumti’ ala Zaadil Mustaqni’ (1/108).

4. Tidak membawa masuk ke dalam toilet benda-benda yang berisi penyebutan ‘Allah’, Nama-nama Allah atau Sifat-Sifat-Nya (Taudhiihul Ahkam (1/303).

عَنْ أَنَسٍ قَالَ كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا دَخَلَ الْخَلَاءَ وَضَعَ خَاتَمَهُ

Dari Anas –radhiyallahu anhu-beliau berkata: Nabi shollallahu alaihi wasallam jika masuk ke kamar kecil beliau meletakkan cincinnya (terlebih dahulu) (H.R Abu Dawud, atTirmidzi, anNasaai, Ibnu Majah)

Hadits tersebut diperselisihkan keshahihannya. Sebagian Ulama’ melemahkan, di antaranya Abu Dawud, anNasaai, Ibnul Qoyyim, dan al-Albany. Namun, hadits ini dinyatakan sah (shahih atau hasan) oleh sebagian para Ulama’ di antaranya atTirmidzi, al-Hakim, Ibnu Hibban, anNawawy, al-Mundziri, Ibnul Mulaqqin.

Dijelaskan dalam hadits Anas bin Malik riwayat al-Bukhari dan Muslim bahwa cincin Nabi adalah dari perak bertuliskan “Muhammad Rasulullah”. Cincin itu juga sebagai stempel terhadap surat yang beliau  kirim.

5. Tidak menghadap ke arah kiblat atau membelakanginya.

Jika seseorang di tempat terbuka, seperti di sungai, dan semisalnya, haram baginya untuk menghadap atau membelakangi kiblat ketika kencing atau buang air besar.


إِذَا جَلَسَ أَحَدُكُمْ عَلَى حَاجَتِهِ فَلَا يَسْتَقْبِلْ الْقِبْلَةَ وَلَا يَسْتَدْبِرْهَا

Jika salah seorang dari kalian duduk untuk menunaikan hajatnya (kencing atau buang air besar) janganlah menghadap ke arah kiblat atau membelakanginya (H.R Muslim dari Abu Hurairah)
Ketika seseorang sedang/ hendak membangun toilet, janganlah tempat buang airnya dirancang menghadap atau membelakangi kiblat, namun hendaknya diarahkan tidak ke arah kiblat. Kalau di Indonesia sebaiknya dirancang menghadap arah Utara atau Selatan.

6. Tidak berbicara ketika kencing atau buang air besar kecuali ada keperluan yang mendesak.
Menjawab salam adalah kewajiban. Namun, Nabi shollallahu alaihi wasallam pada saat kencing dan ada orang yang mengucapkan salam pada beliau, beliau tidak menjawabnya.

عَنِ ابْنِ عُمَرَ قَالَ مَرَّ رَجُلٌ عَلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَهُوَ يَبُولُ فَسَلَّمَ عَلَيْهِ فَلَمْ يَرُدَّ عَلَيْهِ السَّلَامَ

Dari Ibnu Umar –radhiyallahu anhuma- beliau berkata: Seorang laki-laki melewati Nabi shollallahu alaihi wasallam yang sedang kencing. Laki-laki itu mengucapkan salam, namun Nabi tidak menjawab salamnya (H.R anNasaai)

7. Tidak memegang kemaluan pada saat kencing dengan tangan kanan.

لَا يُمْسِكَنَّ أَحَدُكُمْ ذَكَرَهُ بِيَمِينِهِ وَهُوَ يَبُولُ وَلَا يَتَمَسَّحْ مِنَ الْخَلَاءِ بِيَمِينِه

Janganlah seseorang dari kalian memegang kemaluannya dengan tangan kanan pada saat ia kencing dan jangan beristinja’ dengan tangan kanannya (H.R Muslim dari Abu Qotadah).

Larangan tersebut berlaku jika memungkinkan untuk menggunakan tangan kiri. Namun, jika keadaan tidak memungkinkan, harus menggunakan tangan kanan, maka tidak mengapa (asy-Syarhul Mukhtashar ala Bulughil Maram libni Utsaimin (2/122)).

8. Tidak kencing pada air yang menggenang, tidak mengalir.

عَنْ جَابِرٍ عَنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّهُ نَهَى أَنْ يُبَالَ فِي الْمَاءِ الرَّاكِدِ

Dari Jabir –radhiyallahu anhuma- dari Rasulullah shollallahu alaihi wasallam bahwasanya beliau melarang kencing pada air yang tenang (tidak mengalir)(H.R Muslim)

9. Tidak kencing atau buang air besar di tempat berteduhnya manusia atau di jalan yang dilalui.

اتَّقُوا اللَّعَّانَيْنِ قَالُوا وَمَا اللَّعَّانَانِ يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالَ الَّذِي يَتَخَلَّى فِي طَرِيقِ النَّاسِ أَوْ فِي ظِلِّهِمْ

Jauhilah (jangan kencing atau buang air besar) di dua tempat yang terlaknat. Para Sahabat bertanya: Apa itu dua tempat yang terlaknat? Nabi bersabda: di jalan manusia atau tempat berteduh mereka (H.R Muslim) 

Juga dilarang untuk kencing atau buang air besar di tempat-tempat yang menyebabkan kesusahan bagi manusia yang lain.

Seperti kencing di tempat mandi, seperti bak mandi, bathtub, dan semisalnya.

عَنْ عَبْدِ اللهِ بْنِ اْلمغَفَّلِ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ نَهَى أَنْ يَبُوْلَ الرَّجُلُ فِي مُغْتَسَلِهِ فَإِنَّ عَامَّةَ الْوَسْوَاسِ يَكُوْنُ مِنْهُ

Dari Abdullah bin al-Mughoffal bahwasanya Nabi shollallahu alaihi wasallam melarang seseorang kencing di tempat mandinya karena kebanyakan was-was berasal dari itu (H.R Ibnu Hibban dalam Shahihnya)

Beristinja’ dengan air, batu, atau alat-alat lain yang bisa digunakan untuk membersihkan kemaluan atau lubang dubur dari kencing dan kotoran. Rincian penjelasan istinja’ akan dijelaskan berikutnya, InsyaAllah.

10. Setelah itu, menyiram bekas kencing atau kotoran sampai bersih.

11. Keluar dari toilet dengan membaca: Ghufroonaka

عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ إِذَا خَرَجَ مِنَ الْغَائِطِ قَالَ غُفْرَانَكَ

Dari Aisyah radhiyallahu anha bahwa Nabi shollallahu alaihi wasallam jika keluar dari toliet beliau mengucapkan : Gufroonaka (semoga ampunan dariMu)(H.R Abu Dawud, atTirmidzi, anNasaai, Ibnu Majah, dishahihkan al-Hakim, Ibnu Hibban, al-Albany)

(Poin-poin di atas disarikan dari asy-Syarhul Mumti’ ala Zaadil Mustaqni’ dan Shahih Fiqhissunnah)
Bersambung insya Allah....