Belajar Fiqih Islami

IconMelandasi Amalan Ibadah dengan Ilmu Syar'i

Lafadz-lafaz adzan yang disyariatkan

Lafadz-lafaz adzan yang disyariatkan
1. Berdasarkan hadits Abdullah bin Zaid riwayat Abu Dawud,atTirmidzi, Ibnu Majah:

اللَّهُ أَكْبَرُ اللَّهُ أَكْبَرُ -اللَّهُ أَكْبَرُ اللَّهُ أَكْبَرُ - أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ- أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ- أَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللَّهِ - أَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللَّهِ -حَيَّ عَلَى الصَّلَاةِ -حَيَّ عَلَى الصَّلَاةِ -حَيَّ عَلَى الْفَلَاحِ -حَيَّ عَلَى الْفَلَاحِ -اللَّهُ أَكْبَرُ اللَّهُ أَكْبَرُ- لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ

2. Lafadz adzan berdasarkan hadits Abu Mahdzuuroh riwayat Abu Dawud, atTirmidzi, anNasaai, Ibnu Majah:

اللَّهُ أَكْبَرُ اللَّهُ أَكْبَرُ -اللَّهُ أَكْبَرُ اللَّهُ أَكْبَرُ- أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ- أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ- أَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللَّهِ- أَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللَّهِ -أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ- أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ- أَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللَّهِ- أَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللَّهِ -حَيَّ عَلَى الصَّلَاةِ -حَيَّ عَلَى الصَّلَاةِ- حَيَّ عَلَى الْفَلَاحِ -حَيَّ عَلَى الْفَلَاحِ- اللَّهُ أَكْبَرُ اللَّهُ أَكْبَرُ- لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّه

Catatan :

  1. Lafadz adzan yang pertama adalah yang masyhur dikumandangkan di seluruh penjuru dunia saat ini.
  2. Lafadz adzan yang kedua adalah yang dipilih oleh al-Imam asy-Syafi’i dalam kitabnya al-Umm.
  3. Inti perbedaan antara lafadz pertama dengan kedua adalah bahwa dalam lafadz kedua ada at-Tarji’, yaitu kembali mengucapkan dua kalimat syahadat (masing-masing dua kali). Setelah ucapan asyhadu anna muhammadar rosuulullah yang kedua di bagian pertama kembali mengucapkan asyhadu an laa ilaaha illallaah.
  4. Boleh menggunakan kedua jenis bacaan adzan tersebut, namun jika dikhawatirkan menimbulkan fitnah, sebaiknya menggunakan lafadz adzan yang masyhur saja.


Lafadz Adzan Waktu Sholat Subuh

عَنْ أَبِي مَحْذُورَةَ قَالَ كُنْتُ أُؤَذِّنُ لِرَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَكُنْتُ أَقُولُ فِي أَذَانِ الْفَجْرِ الْأَوَّلِ حَيَّ عَلَى الْفَلَاحِ الصَّلَاةُ خَيْرٌ مِنْ النَّوْمِ الصَّلَاةُ خَيْرٌ مِنْ النَّوْمِ

Dari Abu Mahdzuuroh beliau berkata: Saya adzan untuk Rasulullah shollallahu alaihi wasallam dan saya mengucapkan di adzan Subuh yang pertama: (setelah) Hayyaa Alal Falaah, as-Sholaatu khoyrun minan nauum – as-Sholaatu khoirun minan naum (H.R anNasaai, dishahihkan al-Albany)

عَنْ أَنَسٍ قَالَ : مِنَ السُّنَّةِ إِذَا قَالَ الْمُؤَذِّنُ فِي أَذَانِ الْفَجْرِ حَيَّ عَلَى الْفَلاَحِ قَالَ : الصَّلاَةُ خَيْرٌ مِنَ النَّوْمِ

Dari Anas –radhiyallahu anhu- beliau berkata: Termasuk sunnah adalah jika seorang muadzin pada adzan Fajar (setelah) Hayya alal falaah ia berkata: as-Sholaatu khoyrun minan nauum (H.R Ibnu Khuzaimah)

Lafadz Shollu fii Buyuutikum Saat Hujan Deras

Pada saat hujan deras, muadzin disunnahkan mengucapkan sholluu fii buyuutikum sebagai pengganti ucapan hayya alas sholaah

عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَبَّاسٍ أَنَّهُ قَالَ لِمُؤَذِّنِهِ فِي يَوْمٍ مَطِيرٍ إِذَا قُلْتَ أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ أَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللَّهِ فَلَا تَقُلْ حَيَّ عَلَى الصَّلَاةِ قُلْ صَلُّوا فِي بُيُوتِكُمْ قَالَ فَكَأَنَّ النَّاسَ اسْتَنْكَرُوا ذَاكَ فَقَالَ أَتَعْجَبُونَ مِنْ ذَا قَدْ فَعَلَ ذَا مَنْ هُوَ خَيْرٌ مِنِّي إِنَّ الْجُمُعَةَ عَزْمَةٌ وَإِنِّي كَرِهْتُ أَنْ أُخْرِجَكُمْ فَتَمْشُوا فِي الطِّينِ وَالدَّحْضِ

Dari Abdullah bin Abbas bahwasanya ia berkata kepada muadzin-nya pada hari hujan lebat: Jika engkau (selesai) mengucapkan:Asyhadu an laa ilaaha illallaah, asyhadu anna muhammadan Rasulullah, janganlah mengucapkan hayya alas sholaah. Tapi ucapkanlah sholluu fii buyuutikum (sholatlah di rumah-rumah kalian). Manusia kemudian mengingkari hal itu, kemudian Ibnu Abbas berkata: Apakah kalian heran dengan itu?! Sungguh hal itu telah dilakukan oleh orang yang lebih baik dariku (Rasulullah shollallahu alaihi wasallam). Sesungguhnya sholat Jumat adalah kewajiban, (namun ada keringanan saat turun hujan lebat), dan aku tidak suka mengeluarkan kalian (dari rumah) hingga berjalan di tanah (basah) dan tempat yang licin(H.R al-Bukhari no 850 dan Muslim no 1128)

Kebid’ahan dalam lafadz Adzan

Menambah-nambah bacaan tertentu dalam lafadz adzan adalah perbuatan yang tercela dan termasuk kebid’ahan. Tidak diperbolehkan meski bacaannya baik.

Sebagaimana ketika ada sekelompok orang yang melakukan dzikir berjamaah dan diingkari dengan keras oleh Sahabat Nabi Abdullah bin Mas’ud, mereka berkata: Wahai Abu Abdillah (Ibnu Mas’ud), kami tidak menginginkan kecuali kebaikan. Ibnu Mas’ud radhiyallahu anhu menyatakan: Betapa banyak orang yang menginginkan kebaikan, namun tidak mendapatkannya (riwayat ad-Daarimi no 204)


(Abu Utsman Kharisman)

 
 
 
 

Posting Komentar 0 komentar:

Posting Komentar